Mayit Mandiri



Jangan lupa ya, kalau sudah dipanggil, mandi-mandi sendiri, pake’ seragam sendiri, sholat-sholat sendiri, berangkat-berangkat sendiri, dan masuk lubang sendiri. Hehe…
***

biasa, siang ini Dita berangkat sekolah. Dengan motor matic warna putih, dia mulai menyusuri jalan raya menuju tempatnya sekolah. Meninggalkan proyek tol disamping rumahnya yang masih separuh jadi. Sepuluh menit telah ia habiskan untuk perjalanan ini. Ia pun tiba di SMK-nya. 
Menjagang motornya, “Bab, sudah ngerjain tugas DKK?” tanya Dita pada Vena. “Sudah, tapi belum diprint,” logatnya yang khas. “Aku juga, ayo ngeprint dulu Bab!” ajak Dita sembari menaiki lagi motornya. Sambil meringis, “Ayo, ayo!”. Mereka pun meninggalkan sekolah untuk belasan menit saja.
***

Jam pelajaran pertama segera dimulai. Dimohon para siswa memasuki ruang kelas masing-masing. 
Ngreeeeeng, jlek. Bab, cepetan Bab. Wes katene masuk,” kata Dita dengan tergesa-gesa. “Iya, iya.” Dengan menenteng beberapa lembar kertas yang terbungkus plastic, mereka bergegas menuju ruang kelas. Seluruh siswa kelas itu telah berada di dalamnya. Hanya Dita dan Vena saja yang baru masuk. 
Sesampainya di kursi Dita, “Dit, gimana kelompokan Conversation kita?” Tanya seorang teman kepadanya. “Oh ya, gimana Dit?” sahut Vena dari sebelahnya. “Oh iya, kita kan belum latihan. Aduuh! Malah PR-nya banyak banget lagi,” keluhnya. Berpikir sejenak, kemudian, “Emmm, gimana kalau latihannya mulai besok saja?” Mengangkat kepalanya, “Aha! Betul juga kamu Ven,” pertanda mengamini.
***

Selasa pagi jam 8 di rumah Dita… 

Pagi itu begitu cerah, secerah hati Dita. Maklum, baru ditelfon pacarnya. “Sudah makan Yank?” tanya Yayan. Dengan nada malu-malu, “Sudah kok.” Yayan, “Malam Minggu keluar yuk,” ajaknya dengan penuh harapan. Masih malu-malu,”Aaah, kemana?” wajahnya tampak sumringah. Belum sempat dengar jawaban, “Dita! Tolong bantuin Mama Nak!” suara Mama Dita dari dapur. Menjauhkan gagang telfon dari telinganya, “Iya, Ma. Sebentar!” wajahnya mulai kesal. Dita terpaksa mendisconnectkan obrolannya dengan pacarnya itu. 
“Apa Ma?” jawabnya sedikit lemas. Menyiapakan bontotan untuk bekerja, “Tolong ya Nak, bayarkan uang ini ke tokonya Pakdhe. Tadi uang Mama kurang soalnya.” “Mana Ma?” jawab Dita penuh semangat. Entah setan mana yang masuk hingga dia berubah pikiran seperti itu. Dia pun cepat-cepat pergi ke toko Pakdhenya. 
Lima menit kemudian… 

Mama yang sedang menyapu teras. “Wah, cepat sekali anak Mama kembalinya!” tanya Mama penasaran. “Iya donk Ma…” jawab Dita sembari senyum-sendiri. “Ada apa ini?” sekali lagi penasaran. “Nggak ada apa-apa kok, hehe…” berlalu menuju ruang tamu. Langkahnya semakin cepat dan sumringahnya pun semakin bertambah. 

Apa alasanya? Yayan. Dia ingin menelfon Yayan lagi. Baru pegang HP, “Tit, tit… tit, tit.” Dit, aku on the way ke rumahmu. Tolong dipapak ya, di Randu Pitu? Pesan itu dari Aruni, teman sekelompoknya.  Cemberut, “Aduuuh, Aruni ini, gak tau apa? Orang mau pacaran diganggu,” gerutunya. “Keman Dit?” “Mau njemput Aruni di depan, Ma,” jawabnya.
***

Sesi latihan drama…
An accident happened when the medic and paramedic work to Ismi………..
BRUAKKKK, JEDARRRR, JEDERRR, OPPSSSSS, SORRYYYYY……….TRUCK VS PERSON
Security : Oh my God (goes to Dita and help her). Help!!!, Help!!!, everyone help me!!!. There was an accident here! (Panic)

“Dita, adegan ini ceritanya nanti, kamu ketabrak trek” jelas Vio. “Terus, di akhir cerita nanti, kamu berterima kasih kepada your hero, Security (yang diperankan Yusron). Jadi, ada waktu untuk berdua, hehehe…”  tambahnya. Matanya terbelak “Apa?” Dita kaget. “Aaah, kok gitu sih Mbak Well?” dengan nada manja. “Hehehe, lho iya. Kan sudah ditolong?” jawab Vio (yang biasa dipanggil “Mbak Well” di kelas). 
Dita mulai beraksi. Adegan demi adegaan ia lalui dengan tawa. Maklum, baru sesi latihan. Lucu sedikit, ketawa. Aneh sedikti, ketawa. Namun, semua perannya dalam drama itu berhasil ia jalani sampai akhir cerita. Yang masih menjengkelkannya  adalah saat dirinya direkayasa dengan Yusron di bagian akhir cerita. “Mbak Well ini, ada-ada saja,” gerutunya dalam hati.
***

Pentas drama di SMK N 1 Probolinggo…
Hari itu benar-benar sesuatu bagi Dita. Betapa tidak, dia dan teman-teman  SMK-nya tampil di lomba “Cipta Drama” di kota tetangga. Melihat ke depan, telah berjajar siswa-siswi SMK tersebut yang jadi penonton. Ditambah lagi, ada tiga juri yang telah siap dengan sebatang  pena di tangan.
Drama pun dimulai. Dita berusaha professional untuk kali ini. Semua kemampuannya telah ia tunjukkan ke penonton, khususnya dewan juri. Bruakkk, jedarrr, jederrr, oppssss, sorrrry…..truck vs person.  Addoh, peok!” ucap Dita seketika itu.  Semua penonton tertawa geli.
Saat istirahat tiba, Dita duduk sendiri di sebuah kursi penonton. Menikmati sekotak nasi dengan ditemani teh botol dari panitia lomba. Seseorang tiba-tiba duduk disampingnya. Terkejut, “Yayan, kamu kok ada di sini?” “Aku kan pengen lihat kamu pentas, Yank,” jawabnya memberi alasan.
Dita penasaran, “Terus gimana menurutmu penampilanku tadi?” “Bagus sih, tapi lebih bagus penampilannya Aruni, Yank. Dia itu pinter banget mainin perannya. Selain lancar bahasa Inggrisnya, dia juga bisa luwes dan mengerti betul karakternya. Satu lagi, dia lebih cantik biasanya,” jawab Yayan panjang lebar. “Oooh , gitu ya kamu sekarang. Terus aja puji-puji dia Yank.” Meninggalkan kursinya tanpa mempedulikan Yayan.
***
Aku bertahan, karena kuyakin cintaku kepadamu…  
Aku bertahan, karena kuyakin cintaku kepadamu…  
Suara dering handphone itu membangunkan Dita. “Yayan” eja Dita pada nama di layar handphone-nya. “Ah, enggak ah. Lagi bete’ aku sama dia,” ucap Dita seketika itu. Suara dering itu masih tetap mengusiknya. Namun, dia tak mempedulikannya sama sekali. Bahkan, dia mendisconnectkannya.
Tiba-tiba, Tok tok tok… “Iya, sebentar,” jawab Dita. Ia langsung menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Membuka pintu, “Iya, ada apa?” Menengok ke depan, “Yayan!” Bruakkk. Pintu pun tertutup. “Dita, Dita, tolong bukain donk!. Aku mau minta maaf ke kamu soal kemarin,”  sembari mengetuk pintu lagi. “Pokoknya ndak mau!” jawab Dita singkat. “Please Dita, kumohon buka pintunnya,” pinta Yayan sekali lagi. “Pokoknya endak, ya endak. Titik!” Ceklek, Dita mengunci pintunya.
***
Saat jam istirahat, di depan kelas…
“Dit, ada yang nyariin kamu,” kata Vena. “Siapa Bab?,” Tanya Dita. “Yayan” “Dita, Dita, tunggu!” mengerjar Dita. “Apa sih Yan?” garang. “Aku mau minta maaf maaf Dit, soal yang di Probolinggo,” jelas Yayan. “Endak, ya endak,” masih garang. “Aku mohon Yank, maafkan aku.” Naik pitam, “Aku gak gelem mbok bedak-bedakno. Entah arek iku iso moco karakterlah, opo lah. Aku yo aku, areke yo areke,
Pak Jadid lewat, “Dit, Jangan lupa ya, kalau sudah dipanggil, mandi-mandi sendiri, pake’ seragam sendiri, sholat-sholat sendiri, berangkat-berangkat sendiri, dan masuk lubang sendiri. Hehe… “ kemudian, guru satu itu pergi nyelonong begitu saja. Dita lantas menarik tangan Vena dan pergi meninggalkan Yayan. Bocah 16 tahun itu terlihat sangat menyesal.
***
“Aaaa, tolooong-tolooong! Aku harus segera masuk ke kubur.”  
“Mbak, tolong saya Mbak. Tolong mandikan saya Mbak.”
Menoleh ke samping, “Buk, Buk, tolong kafani saya Buk.”
Menoleh ke belakang, “Pak, Pak! Tolong sholati saya sekarang Pak! Tolong Pak!”
Berlari ke ujung ruang, “Pakdhe, Paklik, tolong antar saya ke kuburan sekarang! Pakdhe, Paklik, dengarkan saya!”
Kringgg, kringgg, kringgg…
“Aaaaa!,” mengangkat tubuhnya dari kasur empuknya. “Ternyata, aku hanya mimpi.” Napasnya tersenggal-senggal. Dita lalu mengambil segelas air di meja samping. Glek, glek, glek. Masih tersenggal-senggal napasnya. “Ini mimpi buruk! Mungkin mimpi ini datang karena aku terlalu egois selama ini. Masalah sepele saja, dimasukin hati.” Masih lanjut, “Yayan. Iya, dimana dia sekarang? Aku mau bilang kalau aku sudah maafin dia.”
Kemarin, kaamuu dataang…
Suara nada dering itu menggetarkan handphone Yayan. Diangkatlah oleh seseorang. “Iya, dengan siapa ini?” “Lho, ini siapa? Ini kan HP-nya Yayan. Dimana dia sekarang?” Dita malah balik nanya. “Saya Vira, pacarnya Yayan,” jawab gadis itu dengan terang. “Aaa…” Dita hanya bisa bengong mendengar jawaban itu.
*** 


 www.probolinggokota.go.id

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Metode Pembacaan Spektrofotmeter

Jenis-jenis Jomblo

Mak Nyussnya Nasi Punel Bangil