Mengedit Berita di Kantor Redaksi 'Yuk Mari'



By: Muhammad Sajidin Nur


Hari itu, Kamis 19 Februari, dimulai dari wawancara. Sekitar pukul 7.30 aku mulai terjun ke lapangan. Aku harus mendatangi Masjid Muhammad Cheng Hoo untuk bisa mendapat narasumber keempat, Pak Wahyudi, sie Perlengkapan.

Perjalan menuju kantor redaksi di Gempol sempat tergunda satu jam. Alroji handphone telah menunjukkan pukul 10. Kami, rombongan dari siswa-siwi kelas  Jurnalistik siap meluncur ke Kaki Penanggungan. Ada aku, Mega, Aruni, Nessa, Diah, Ratih, Vio, dan sang  caproff, Teachef Jadid.

Kantor redaksi  itu bernama Yuk Mari. Sebab, tempat yang dipaki bukanlah kantor redaksi sungguhan, melainkan rumah guru kami, Bu Yeti. Kita action jam 10.30 pagi. Mulai dari proses editing berita, rekaman suara, hingga membuat video dengan movie maker dilakukan di sana.


Di tengan hari, perut kami keroncongan. Rujak kikil jadi pilihan. Makan siang itu begitu nikmat karena indahnya kebersamaan. 11 porsi rujak kami santap bersama di tengan cuaca yang lagi mendung.


Waktu terus berjalan hingga menjelang petang. Tak terasa tiga waktu sholat kami lakukan di area bahasa "kantor" ini. Empat buah video telah berhasil diedit di movie maker. Tinggal satu tugas lagi. Dubbing!

19.00 WIB. Proses dubbing belum juga selesai. Aku ijin ke kamar mandi sekalian ambil air wudlu, kemudian sholat. Setelah itu, suasana di kantor redaksi itu penuh tawa. Untuk menghilangkan penat, para kaum hawa saling melempar guyonan. Sampai akhirnya terdengat suara dari corong masjid, "Assalamu'alaikum Warahmatullahii Wabarakatuh ..." Bu Yeti menebak, "Pasti ada orang meninggal." Ya, benar sekali.

120 menit kemudian, kami pamit ke pemilik rumah untuk pulang. Kami masih tetap sama, meneruskan guyon di tengah perjalanan. Selamat tinggal Kaki Penanggungan! 


Sumber Gamabar: FB Yeti Kartikasari Lestiyono 19 Februari 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Metode Pembacaan Spektrofotmeter

Jenis-jenis Jomblo

Mak Nyussnya Nasi Punel Bangil