Mak Nyussnya Nasi Punel Bangil


 

Nasi punel dengan lauk hati

Santap siang dengan nasi punel? Kenapa tidak. Daerah di Jawa Timur yang terkenal dengan kelezatan punelnya adalah Bangil. Ya, Kota Bordir ini memang perlu diakui keunggulannya soal kulinernya. 

Nasi punel adalah nasi yang empuk dan enak. Yakni, nasi yang tidak kering dan tidak pula basah. Apabila nasi jenis ini ditambahkan sayur nangka (tewel), lauknya jeroan: empal, dendeng, paru, limpa, ati, atau babat, dan dilengkapi dengan bobor (kelapa muda), mendol, sate kerang, bali tahu, klomotan, dan serundeng, plus sambel kecok, maka jadilah nasi punel. Es jeruk manis akan menjadi penawar rasa pedas yang timbul dari sambal kecoknya. 

Salah satu warung yang mennyajikan menu nasi punel di Kota Bangil adalah warung milik Bu Meita. Warung yang berada di Jl. Pattimura dekat SMPN 1 Bangil ini memang sederhana. Cuma berukuran 3,5 x 5 m2. Namun, yang membuat unik adalah foto-foto sang maestro kuliner, Bondan Winarno, sedang menunjukkkan “tarian” jari dan mulutnya saat menyantap menu ini.


Salah satu foto sang maestro kuliner di dinding warung Bu Meita

Sekitar Desember 2009 lalu, Pak Bondan mampir ke warung Bu Mieta. Beliau bercerita bahwa reporter dari salah satu kru televisi swasta mendatangi warungnya, dan berkata bahwa mereka mau mengadakan wisata kuliner. Seminggu kemudian, Pak Bondan beserta rombongan pun datang.  Apa dampaknya? Warungnya makin rame dari sebelumnya. 

Tak hanya Pak Bondan saja, wartawan dari Radar Bromo juga pernah meliput kelezatan nasi punel Bu Meita. Itu berarti, kualitas nasi punel Bu Mietha perlu diacungi jempol dalam hal ini. 

 Selalu Senang

 Ibu dua anak asal Dusun Bengok, Desa Beji, Kecamatan Beji ini mulai merintis usahanya pada 2004 lalu. Berawal dari bantu orang tua berjualan punel, ia kini menjadi penerusnya. Sebelum tahun 2004, Bu Meita mengaku belum mempunyai kerjaan. Nah, pada tahun 2004, beliau lalu membuka warung nasi punel dengan sang suami, Pak Kabul.


Ibu Meita dan suami sedang berkemas sebelum pulang 

Dengan bermodalkan Rp 10 juta, ia kini telah meraih omzet Rp 3 juta perbulannya. Beliau mengaku selalu senang dalam menjalani pekerjaannya ini. “Senenglah Mas, nyekel duwik. Oleh koyone bendino,” tuturnya saat di kunjungi pada Jum’at siang (12/09). 

Ketika ditanya tentang hambatannya selama sepuluh tahun berjualan, beliau menjawab tidak ada. Cuma ada sedikit masalah ketika ada banyak pesanan yang beliaua terima. Pak Kabul menjawab. “ Kalau ada pesanan  banyak, dagingnya terbatas. Untuk mengatasinya, saya beli daging di Bangil sendiri. Kalau tambah,  ke Porong.”

Lanjut, Bu Meita mengaku pernah menolak pesanan. Saat itu ada yang pesan 400 bungkus dalam waktu satu hari. Jawabnya, “Nggak cukup bahannya. Jadi, nggak mau aku.”

Melalui usahanya ini, Bu Meita bisa membiayai dua anaknya yang sekarang masih menempuh bangku pendidikan. Ank pernah, sekarang berkuliah bidan di Mojokerto. Yang satu lagi, masih kelas VI SD.

Rekan Sepunel

“Kalau ada pembeli ya saya tampani. Kalau tidak ke sini, ya saya tidak maksa.”

Selain warung Bu Meita, masih ada tujuh warung nasi punel yang berada di Kota Bangil. Warung-warung itu tersebar di banyak tempat, antara lain di Jl Kartini, Jl Dr Soetomo, Jl Diponegoro, pasar lama, pegadaian hingga dekat stasiun Bangil. 

Dengan banyaknya penjual menu yang sama, Bu Meita tak merasa khawatir sama sekali. Beliau malah menanggapinya dengan lapang dada. “Penjual-penjual punel di daerah sini kebanyakan tetangga saya, dari Dusun Bengok.” 

Beliau mengatakan tidak ada persaingan walaupun banyak yang dagang punel. Niat beliau ikhlas hanya untuk berdagang. “Kalau ada pembeli ya saya tampani. Kalau tidak ke sini, ya saya tidak maksa,” jealsnya. (Sajidin)

Foto-foto:


Saya bersama sang narasumber, Ibu Meita di sela-sela waktunya.


Bu Meita sedang membungkusi dagangannya sebelum pulang


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Metode Pembacaan Spektrofotmeter

Jenis-jenis Jomblo