Misi Menyelamatkan “Eva Nissa” Batu




Setelah mendengar berita bahawa Eva Nissa meninggal di gerobak sampah ayahnya, hati dr. Akmal tersentuh. Dia mendapat saran dari sahabat spesialnya untuk membuat program kesehatan bagi masyarakat Batu. Berhasilkan dokter magang ini menuntaskan misinya?
============================================================




Sang Surya masih malu-malu menampakkan wajahnya. Kabut pagi masih menyelimuti desaku di Kota Batu ini. Dingin pun ikut menusuk kulit. Namun, tiga orang pasien sudah mengantri di kursi depan sambil membawa sekarung sampah.



“Terima kasih Mas Dokter! Berkat bantuan Mas, anak saya sekarang bisa berobat.”
“Iya Bu, sama-sama. Sebagai manusia, kita wajib saling membantu.”

            Rutinitasku setiap pagi sebelum berangkat magang melayani pasien di klinik kecil ini bersama dr. Hardi. Aku senang bisa membantu mereka yang kesusahan mendapatkan pelayanan medis. Meskipun saat ini BPJS dan Jamkesmas/da mulai menjamur, namun kubulatkan tekad untuk mengambil bagian medis. Aku ingin menghancurkan penghalang antara akses kesehatan dengan masyarakat. 

“Mal, tolong nanti kamu tambahi obat analgesiknya!”
“Siap Dok!”
***

            Breaking news Mutu TV kembali hadir dengan berita ter-update di negeri ini selama 10 menit ke depan. Pemirsa! Di awal Mei tahun ini kejadian buruk kembali menampar negeri ini. Eva Nissa, seorang anak berusia 4 tahun, meninggal dunia di dalam gerobak karena sang ayah tak biayauntuk berobat. Penghasilan yang hanya Rp 10.000 membuat mereka sulit untuk mendapat akses kesehatan. Mari kita simak laporan reporter Iskan Iskandar langsung dari Candi, Sidoarjo!

“Mal, ngelamun aja pagi-pagi!” 

            Suara  Firaseketika membuyarkan lamunanku. Gadis yang berada di sampingku kini begitu perhatian padaku sejak awal semester empat kami kuliah. Entah apa yang melatarbelakaginya. Aku sudah menganggapnya sebagai seorang sahabat.

“Iya nih Fir, aku keingetan sama berita anak yang meninggal di gerobak karena orang tuanya tak mampu membawanya ke rumah sakit.”

Fira kemudian memberiku masukan, “Kenapa kamu gak coba bantu mereka aja? Itu lebih bermanfaat lo Mal. Kamu bisa bantu mereka dengan apa yang ada di sekitar lingkungan mereka. Selain bermanfaat di bidang medis, itu kan juga acara untuk menjaga kelestarian lingkungan” Aku coba pertimbangkan ide itu lagi nanti. 

Jam kerja telah tiba. Ruangan Poli Umum ini begitu ramai. Sudah banyak pasien yang mengantri di ruang tunggu.
“Iya, betul. Silahkan duduk Bu! Ibu dalemnya mana?”
`           `           `           `                       ***

Ruang kamar ini begitu kecil. Banyak buku tertata rapi di atas meja. Di sampinya, terdapat ornament-ornamen unik hasil daur ulang.  Tak lupa, lampu belajar yang berada di atasnya. Aku biasa menambah ilmu medis di sini.

Waktu telah menunjukkan pukul 22.00. Masih terngiang di kepalaku ide Fira tadi pagi. Dia menyarankanku untuk membantu mereka.  “Empati itu lebih penting dari kesedihan, Mal!”

            Aku punya ide akhirnya. Sampah adalah bagian dari hidupku dan hidup mereka. Jika sampah ini bisa didaur ulang, maka danannya bisa dibuat mereka berobat. Aku akan coba minta kerja sama dengan banyak pihak di desa ini. 

Nah, aku butuh membuat program kesehatan. Kader posyandu, PKK, pemulung, dan masyarakat akan ku ajak untuk mensukseskan program baru ini. Butuh sebuah klinik sebagai tempat menetap nantinya

Ah? Tapi klinik apa namanya? Klinik Sehat? Klinik Sejahtera? Atau Klinik Indonesia Medika? Pokoknya yang masih terikat dengan proses pemanfaatan sampah. Otakku masih buntu.Akhrnya, nama Klinik Ansuransi Sampah (KAS) muncul. Inilah nama yang cocok. 

Tapi, bagaimana dengan pemanfaatan samaphnya? Ah, PR ini hamper membuatku tak bisa tidur semalaman. Penghasilan yang hanya Rp 10.000 membuat mereka sulit untuk mendapat akses kesehatan. Oh iya, uang Rp 10.000 dari sampah itu nantinya akan digunakan sebagaia ‘Dana Sehat’. Mudah, simple, dan terjangkau oleh mereka. Sampahnya nanti bisa disaur ulang dan berniali ekonomis. Masyarakat cukup membayarnya tiap ulan sekali.

Dana sehat tersebut digunakan untuk pelayanan kesehatan secara holistik, yaitu secara promotif (meningkatkan kesehatan), preventif (mencegah sakit), kuratif (mengobati sakit), dan rehabilitatif (rehabilitasi yang sembuh). Jadi, msyarakat tidak akan rugi walaupun dalam keadaan sehat karena mendapat berbagai program peningkatan kesehatan.
***

Tak terasa waktu terus berputar. Aku sudah magang di RSUD Sidoarjo selama setahun. Banyak kejadian-kejadian tak terlupakan di sini. Namun, hari itu kondisi badankutak seperti biasanya….

“Fir, aku hari ini izin gak masuk. Badanku panas banget, gemeteran kayak orang mau mati. Nanti aku mau chek up di RS. Saiful Anwar.” Tulisku di BBM
“Kamu becanda ya? Gak boleh ngomong gitu Mal!”
“Bener. Aku gak becanda. Aku sakit sudah sebulan.”
”Apa? Sebulan? Kamu kok gak pernah bilang?”
“Iya, aku gak sempet bilang. Kerjaanku di klinik setumpuk dua bulan ini.”
“Oke, oke! Entar tak izinkan ke Bunda.”
***

Dimana ini? Mulai kubuka mataku. Ada dua perawat dan seorang dokter di sampingku. Ibu juga ada di sana. Aku belum 100% sadar. Dokter pun mulai menyapaku ramah dan menjelaskan kalau aku sudah siuman setelah pingsan saat perjalanan ke RS. Saiful Anwar Malang. 

“Dek Akmal, sampean kecapekan. Itu yang membuat kondisi sampean hari ini nge-drop. Sering telat makan? Iya, jawabku. 

Badanku masih terasa panas. Kuakui, dua bulan ini aku jarang istirahat. Aku sibuk mengurus klinik hingga lupa makan. Semakin hari, semakin ramai orang yang berobat di klinik. Mereka merasa senang dengan program baru ini karena kemudahannya. Info Klinik Asuransi Sampah  sampai-sampai terdengar sampai ke desa tetangga.

 Setelah Shubuh, aku harus mulai bekerja. Jam 4.30 mengurus tanaman hidroponik. Jam 8 aku sudah harus menangani pasien di Sidoarjo. Jam 2 siang pulang, dan jam 15.30 baru nyampek rumah. Mandi, sholatistirahat. Jam 5 sampai jam 9 malam aku harus ke klinik lagi. Setelah itu, aku masih harus ngerjakan laporan kuliah. Jam 11 malam aku baru tidur. Kadang, aku harus mengambil obat Puskesmas terdekat kalau sedang kehabisan.

Waktu terus bergulir.  hati ke-60 ini, aku harus dirawat untuk sementara waktu di rumah sakit.
“Istirahat yang cukup yaLe? Semoga kesehatanmu cepat membaik.” Pesan dr. Arif sebelum ia meninggalkan ruanganku.

            Tak terasa sepekan aku dirawat di rumah sakit besar ini. Kondisi kesehatanku terus menurun hingga aku harus beristiraht total atas aktifitasku sehari-hari. Beberapa teman sempat menjenguk di hari ketiga. Jika minggu depan kondisiku tak juga membaik, dr. Arif bilang aku harus dirujuk ke rumah sakit lain di Malang nantinya.
***

            Aku dirawathampir dua minggu, Fira mengabariku bahwa ada info dari kampus. Pemerintah Prancis mendengar klinikku. Aku diundang ke Istana Buckingham untuk menerima pengahargaan karena telah menginspirasi generasi muda Indonesia dengan membantu banyak orang di bidang  kesehatan. 

Tak terbayang sudah, inilah balasan dari Allah. Kebahagian itu membuatku meluap kegirangan. Tak tahan lagi, aku langsung bersujud syukur.

Minggu depan aku berangkat. Aku harus sembuh! Aku herus ingin membanggakan Kota Batu tercinta. Oke, mindsetku akan kusetting: sembuh! 

            Kreek… Pintu ruanganku tiba-tiba terbuka. Ternyata dr. Arif masuk dan menjelaskan kalau aku besok pagi sudah boleh pulang. Mendengar hal itu, Ibu langsung menangis tak percaya. Sebab, seminggu lalu dokter menyataakn kalu kondisiku terus memburuk. 

Aku bersyukur mendengar berita baik ini. Fira dan dr. Hardi harus tahu. Besok aku akan mulai mempersiapkan diri menuju Prancis. Hello Prancis, see you next week!
***

Ini seperti mimpi. Aku sudah landing di salah satu bandara internasional Prancis. Suasanya begitu ramai dan dingin. Aku ditemani dr. Hardi dan seorang dosen di kampus begegas menuju Istana Buckingham. Pangeran Charles sudah menunggu di sana. 

“Terima kasih saudara Akmal Saidi, Anda telah menginspirasi generasi muda Indonesia dengan program kesehatanan yang Anda galakkan. Sebagai ucapan terima kasih, izinkan kami memberi penghargaan kepada Anda.”

            Saat itu aku diberi gelar HRH The Princess Wales Sustainability Enterpreneurship First Winner 2014. Selain itu Universitas Cambrigde juga memderi dukungan dana sebesar 50.000 euro untuk memngembangkan Klinik Ansuransi Sampah di Batu.

Aku meyakini barangsiapa yang menyempurnakan niat karena Allah, maka Allah akan menyempurnakan pertolongan-Nya. Semoga setelah adanya hal ini, keikhlasankunmembantu sesame semakin bertambah Amiin…Do’aku dalam hati ketika kilatan-kilatan kamera wartawan menyambar kami di atas panggung.
***

Badanku kembali panas. Kepalaku pusing, dan perutku mulai mual-mual. Pandanganku kabur melihat hidanagan di meja makan ini. Aku tak tahan lagi. Byarr…isi perutku keluar semua.

“Mal, kamu kenapa Sayang?”
“Badanku kok tiba-tba panas ya Mom?”
“Kamu sakit lagi? Ayo kita ke rumah sakit.”
“Pa, Akmal muntah! Penyakitnya kambuh. Cepat kita bawa dia ke Saiful Anwar lagi.”
            Aku setengah sadar. Ini sudah di rumah sakit. Infus telah menempel di tanganku.

Dalam waktu 420 menit, aku sudah berada di ruangan yang sangat terang. Sepertinya  aku kenal tempat ini. Ada banyak orang sedang mengerumuni seseorang di sana. Mereka berbaju hitam. Menagis sambil membaca ayat-ayat Qur’an. Ada seorang perempuan yang mengis histeris di dekata orang itu.

“Saya turut berduka cita atas meninggalnya Akmal, Om. Dia adalah sahabat terbaik saya.”
“Inilah jalan terbaik untuk dia. Semenjak sakit tiga bulan lalu, kondisi imunnyatak stabil. Kadang sehat, kadang juga badannya panas. Dia terlalu capek bekerja. Saya kenal betul Akmal. Dia adalah seorang pekerja keras”
“Maaf Om. Kalu boleh tahu, apa diagnosis dokter atas sakitnya?”
“Meningitis.” #

By: Muhammad Sajidin Nur, pelajar SMK Muhammadiyah 1 Pandaan jurusan Analis Kesehatan, 2015
 Bisa disapa di sajidin_smpmugamesra@ymail.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Metode Pembacaan Spektrofotmeter

Jenis-jenis Jomblo

Mak Nyussnya Nasi Punel Bangil