Menilik "Sisi Lain" dari Kesuksesan




Judul buku         : BERANI GAGAL 
Judul asli           : DARE TO FAIL
Pengarang          : Billi P.S. Lim
Penerbit             : PT. Pustaka Delapratasa, Jakarta
Tahun terbit      : 1996
Jumlah halaman: 282 halaman 




Sungguh menakjubkan. Banyak orang sukses yang tumbuh dari masa suramnya, yakni kegagalan. Kebanyakan orang suka dengan kesuksesan, tetapi benci dengan kegagalan. Mereka tidak menyadari arti penting dari sebuah kegagalan. Mereka menganggap orang gagal adalah orang yang perlu dikucilkan, dihina, dimaki, dan seterusnya. Penglihatan mereka hanya tertuju pada kesuksesan semata, tanpa melihat “sisi lain” dari orang-orang sukses tersebut. Padahal, jika “sisi lain” itu dikupas, maka akan tampaklah arti sebuah kegagalan dalam perjalanan kesuksesan seseorang. 

Buku ini diawali dengan ungkapan yang tertulis di covernya, “Ketika seorang samurai sejati berperang, dia mempersiapkan diri untuk mati, tetapi yang sering justru musuhnya yang mati.” Ungkapan ini menandakan bahwa dengan keberanian mengambil resiko, kesuksesan akan menunggu kita di depan. Tak perduli resiko itu besar ataupun kecil, kalau keberanian telah membara, segala rintangan akan ia hadapi untuk meraih kesuksesan. 

Melalui buku ini, penulis bermaksud untuk memberi motivasi bagi mereka yang telah berulang kali gagal. Sebuah buku yang memang ditulis sebagai “api” yang akan membakar semangat juang mereka yang tengah terperosok dalam lubang kegagalan. Sebagai pembukanya, mari kita perhatikan nasihat ini, “Jangan menilai orang yang mencoba dan gagal, tetapi nilai orang yang gagal mencoba.” 

Bapak produksi masal, Henry Ford mengatakan, ”Kegagalan adalah peluang untuk memulai lebih pintar.” Maksudnya, dengan adanya kegagalan, seseorang akan memutar otaknya agar bisa mencapai keberhasilan. Dari situlah, peluang kecerdasan akan terbuka. Dia akan menggunakan pendekatan yang baru pada usahanya. Mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh orang lain, sehingga akan muncullah peluang keberhasilan pada dirinya. 

Di dalam buku ini juga dijelaskan tentang pentingnya mencoba hal baru. Jika kita ingin maju, kita harus mencoba sesuatu yang lebih besar atau menerjuni bidang baru. Dan untuk melakukan itu, selalu melibatkan “resiko” – dan “resiko” selalu diiringi kemungkinan bahwa kita mungkin gagal mencapai apa yang kita inginkan. Yah, ini sudah tidak dapat dielakkan: kita tidak mungkin menemukan lautan biru jika tidak berani berlayar jauh dari pantai. 

Lalu, bagaimana dengan orang yang tidak berani memulai? Anonim berkata, “Orang yang tidak berani memulai, sungguh tidak beruntung.” Hal ini menunjukkan, jika sesorang selalu takut untuk melakukan sesuatu lantaran takut salah atau gagal, maka orang seperti ini tidak akan beruntung. Sebab, hanya dengan mencobalah, kita dapat mengetahui hasilnya. Tanpa adanya kegiatan mencoba, selamanya kita tidak akan mengetahui bagaimana kemampuan diri kita sendiri. 

Berawal dari kesalahan, Thomas Alva Edison (1847-1931), sang penemu bola lampu,  menyebutnya sebagai pelajaran. “Jangan menyebutnya suatu kesalahan, jadikan suatu pelajaran,” tuturnya. Apabila kita melakukan kesalahan, maka jadikan hal itu sebagai pelajaran paling berharga. Pengalaman yang akan mengajari kita agar tidak jatuh pada lubang yang sama. Sehingga, kita dapat mengambil ilmu dari kesalahan tersebut. 

            Billi P.S. Lim dalam bukunya ini, menyindir setiap orang yang takut akan kritikan karena melakukan sesuatu. Sindiran itu begitu pedas apabila dibaca. Seakan membuat pembacanya menjadi turun wibawanya karena merasakannya. Bunyinya adalah sebagai berikut, “Ada satu cara mengelak dari kritik: jangan menjadi apa-apa, jangan berpikir apa-apa. Beristirahat, santai, dan melamun saja sepanjang waktu dan membunuh segala cita-cita. Solusi ini tidak pernah gagal.” 

Di lain halaman, dijelaskan bahwa kegagalan bukan menjadi  masalah, tetapi yang terpenting adalah berapa kali orang tersebut bangkit kembali. Hal ini memang benar. Jika kegagalanlah selalu kita pikirkan, alangkah sia-sia hidup ini. Membuang waktu hanya untuk memikirkan masa suram yang tidak bermanfaat. Namun, lain halnya dengan seseorang yang berusaha bangkit dari kegagalan. Dia mencoba, mencoba, dan terus mencoba untuk meraih kesuksesan. 

Soichiro Honda dalam usahanya banyak menemui kegagalan. Namun, ia tidak mudah menyerah. Ia mulai bermimpi lagi. Memimpikan mimpi baru. Alhasil, dia mendapat kesuksesan dari upayanya tersebut. “Yang dilihat orang pada kesuksesan saya hanya  1%, tetapi apa yang tidak mereka lihat adalah 99%, yaitu kegagalan saya,” terangnya. Hal ini membuktikan, mimpi dapat membuat seseorang untuk bisa bangkit kembali saat ia sedang berada di masa suramnya, seperti yang telah dilakukan oleh Soichiro Honda. 

Sebagai penutup resensi, mari kita perhatikan pesan dari Dr. Walter Doyle Staples berikut, “Impikanlah apa yang berani kamu impikan, lakukanlah apa yang berani anda lakukan, dan jadilah apa yang berani anda inginkan.” Nasehat tersebut memberi kita energi positif untuk berani memulai sesuatu yang kita impikan. Lepas dari rasa takut gagal yang selalu menjadi momok dalam kehidupan. Bertindak dan berusaha untuk meraih impian, yakni kesuksesan. 

Keunggulan buku: memberikan pengetahuan tentang nilai dari sebuah kegagalan; banyak memberikan kata-kata motivasi.
Kelemahan buku : gambar-gambar yang disajikan tidak berwarna, alias hitam putih; ada beberapa kalimat yang sulit untuk dipahami.
Manfaat buku    : memberi semangat pada mereka yang tengah terperosok dalam kegagalan.

Komentar