AYASOFYA BERKELANA


Oleh: Sajidin Nur

Merindukan Ayasofya (republika.co.id)

Kisah Pendeta Jadi Mualaf di Hagia Sophia. Foto ilustrasi: Seorang lelaki berdoa di depan Museum Hagia Sophia di Istanbul, Turki, 10 Juli 2020. Pengadilan administrasi tertinggi Turki pada 10 Juli 2020 memutuskan bahwa museum yang dulunya sebuah masjid yang dibangun di katedral dapat diubah menjadi masjid lagi dengan menganilasinya. Status sebagai museum.


Aya, mahkotamu luar biasa, mampu bersaing dengan sembilan surga
Impresi mendalam pada Buya-nya
Buya Tayyip Erdogan Fatih
Dikau kekasih sejatiku, gadis Ayasofya Fatih
Berhala muda warisan dunia


Air langit basahilah
Hati orang-orang yang mencintai Ayasofya Fatih
Yang setia berjanji


Hujan gerimis basahilah baju ini
Di dalam dada
Supaya tidak kekeringan menepati janji


Dinginnya Gunung Uludag Purba
Yang ikut mendengarkan apa kata suaramu Aya…
Itu adalah rumah kecilmu dulu di Konstantinopel, Turkey


Aya berwajah merah delima dan merona
Dengan bibir kecilmu yg manis
Rambut panjangmu sepunggung yang tertutup jilbab maroonmu itu
Suaramu serak-serak basah ngangenin di hadirat jama’ah
Aya ramah dan suka bergurau kalau bertemu aku



Aya cantik nan berseri dan pernah main mata denganku
Selalu bersama hingga ujung nyawa
Kau di sampingku
Aya….
Besarnya  cintaku untukmu



Hatiku pilu mengenang dirimu
Dan masih kusimpan puisi-puisimu
Aya buruk kian nasibmu
Kini dirimu telah menjadi berhala muda


Aya kini kau terkenang
Banyak buku beredar tentangmu
Mungkin tak terkenal bila tak berpolemik
Kini dirimu telah menjadi berhala muda


Aya andai masih menjadi manusia baru di  dunia postmo ini
Minta bantu modal buat bikin buku baru
Janjinya adalah pergi tidak selama ini
Namun kau memutar janjimu sendiri yang kau ucapkan di depanku kala itu
Setelah sekian mil savanna kau jelajahi di jalan panjangmu



Besarnya untuk cintaku padamu
Sampai saat itu
Meski roda waktu terus berjalan, aku tidak bisa melupakan
Sampai kapan aku menunggu hingga kedatanganmu kembali di pangkuanku

Pasuruan, 16 Juli 2020

***


1) Buya = sebutan untuk seorang Kiai di Minang (wilayah Sumatra Barat)
 2) Ngangenin =  berhasil membuat orang lain merasa rindu kepadanya
3) Postmo/Post Modern = gerakan abad akhir ke-20 dalam seni, arsitektur, dan kritik yang melanjutkan modernisme; Pandangan yang menggantikan zaman modernisme.




Keterangan PUISI:

Jumlah 10 bait

Puisi ini akan diikutkan di Lomba Cipta Puisi Perdamaian

Tema: Generasi Cinta Damai

Diselenggarakan oleh Panitia Lomba Tehawie.di di Garut Jawa Barat

Deadline pengumpulan hari Senin tanggal 20 Juli 2020

Penjurian mulai 21 Juli s/d 14 Agustus 2020

Pengumuman pemenang 17 Agustus 2020 (75 tahun usia NKRI)


Biodata Singkat Penulis:

Muhammad Sajidin Nur, pelajar yang lahir kota pusaka, Pasuruan pada 29 Mei ini sehari-hari bergabung di kelas Kimia Klinik, Kimia Farmasi, dan Biokimia Medis. Saat ini sedang mempelajari terminologi anatomi sembari mengerjakan antologi bersama. Bila ingin bertukar ide tentang health care, bisa menghubungi IG: muh_sajj dan m.sajidinnur29@gmail.com. Ditunggu karyanya ya..



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Metode Pembacaan Spektrofotmeter

Jenis-jenis Jomblo

Mak Nyussnya Nasi Punel Bangil