SESERING APA ANDA MENONTON FILM SECARA VISUAL?

Oleh: Muh. Sajidin Nur 



“Apa yang Anda lihat dari sebuah film (box office, CGV, smartphone, laptop, You Tube, Netflix, dan di lokasi syuting)?”


Pertama, orang menonton visual film tersebut karena dianggap menghibur. Memang tidak bisa disalahkan bahwa visual memegang porsi terbanyak dalam tayangan film. Penampilan para tokoh manabisa kita lihat tanpa adanya visual seperti kostum, kosmetik, dan aksesoris lain. Cuman ketika kita hanya fokus ke visual, betapa sayangnya si pembuat scenario (scriptwriter) jika tahu kalau pesan moral yang ingin sampaikan akhrinya tidak sampai. Betapa sedihnya. Karena tujuan awal pembuatan film adalah untuk menyampaikan pesan moral, sedangkan pesan sendiri baru bisa tersampaikan melalui medium udara (suara).


Kedua, orang menonton visual film tersebut karena dianggap provokatif. Ada juga pemilihan kostum yang digunakan itu fungsinya untuk memprovokasi penonton agar lebih terbawa emosi ke film tersebut. Oleh karena itu kostum dibuat kontras antara satu pemain dengan pemain yang lainnya. Atau ada tokoh yang menggunakan kostum aneh bin absurt untuk menarik perhatian penonton dan membedakan dengan pemeran lainnya di film-film yang ada. Atau juga di film-film tertentu yang mengharuskan si pemeran berubah warna, berbaha kostum, dalam waktu cepat. Namun sekali-kali nih, yang akan disampaikan dalam film adalah pesan moral dengan medium udara (suara).


Ketiga, orang menonton visual film karena aksesoris yang dikenalan seperti togkat, mahkota, kalung, mobil balap, dsb. Ini adalah hal yang perlu dihindari temen-temen sekalian. Karena apa, aksesoris hanya sebagian kecil melengkapi kostum panggung saja. Tetapi yang mesti kita serap adalah pesan moral tadi, temen-temen. Dan pesan moral tidak bisa ditemukan dalam tempat, kostum, maupun aksesoris yang dikenakan tetapi melalui suara mereka, temen-temen.


Keempat, orang menonton film karena lokasi syutingnya ada di belahan bumi utara atau selatan bahkan perkotaan dengan banyak bangunan perkantoran pencakar langit. Yang yang kayak gini kadang bisa mengaburkan fokus kita menyerap pesan moralnya. Karena lokasi syuting berisi sosok pohon, sosok hewan, sosok pemeran kameo (pemeran figuran), dan lain sebagainya. Sayangnya, ketika kita fokus ke aspek lokasi (latar tempat), maka yang kita dapat kita serap tidak sebanyak jika kita coba dengarkan percakapan-percakapan di antara mereka.


Kelima, orang menonton film karena karena ingin melihat adegan panas yang ada di dalamnya. Dalm hal ini ketara sekali jika tujuan awalnya ke sana (...). Di sini juga tidak begitu maksimal teman-teman kalau diteliti betul apa yang di dapat setelah melihat adegan itu di kemudian hari. Dilupakan, dilalaikan, atau bahkan paling ekstrem dipraktekkan ulang di dunia nyata? Nah, di sinilah pesan moral juga tidak bisa diserap maksimal jika kita terus memandangi bagian intim tersebut. Sementara masih ada banyak pesan moral yang kita butuhkan dalam menghadapi pergulatan hidup. Itu hanya, kalau benar-benar tujuan menonton film itu untuk mencari solusi dari kejanggalan-kejanggalan yang kita temui di sekitar, di dalam keluarga misalnya.


Nah, apakah kalian juga memiliki motivasi seperti di atas juga temen-temen dalam menikmati karya film nusantara atau internasional? Untuk mengambil pesan moral dalam sebuah film kita perlu pertama, memahami bahasa mereka (Inggris, Jepang, Korea, Jawa, Indonesia). Karena dengan pendekatan bahasa akan memudahkan kita dalam memahai pesan moralnya. Kedua, kalimat-kalimat yang mereka gunakan untuk menyapa, meminta bantuan, menunjukkan arah jalan, atau memulai pembicaraan perlu kita perhatikan. Dengan begitu, kita akan sedikit terbantu di aspek linguistik dan aspek gesture tokoh. Sekali lagi temen-temen, tidak nikmat rasanya jika kita kerap menonton film tanpa memperhatikan unsure kebahasaannya yang dituturkan para penuturnya. Di sini, kita juga bisa belajar aspek sastra lisan yang dipakain oleh para tokoh. Sayang sekali rasanya, jika film tersebut berputar selama 90 menit atau 150 menit berlalu tanpa bisa kita pelajari aspek kebahasaan, aspek gesture, dan aspek pragmatiknya.


Mari menjadi orang yang cerdas dan bijak dalam menikmati sebuah karya para sutrada besar di nusantara maupun internasional. Semangat buat film Quarantine Tales (5 sutradara, 5 cerita) J

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Metode Pembacaan Spektrofotmeter

Jenis-jenis Jomblo

Mak Nyussnya Nasi Punel Bangil