BEBERAPA INDIKASI JIKA ANDA MENGALAMI GANGGUAN PSIKIS DIMULAI DARI PROPERTY TERDEKAT DI MASA PANDEMI

Oleh: Muh. Sajidin Nur 



"Mengapa ketika kita melihat kaca pecah di jendela rumah atau pintu almari, kita merasa B aja?"


Pertama, ini kasus langka. Seseorang yang waras dan cerdas secara kejiwaan, pastinya akan teliti dengan hal tersebut dan terus merasa ada yang tidak beres. Jadi, kejadian tersebut akan diusut secara tuntas dan mempertanyakan penyebab kaca pecah tersebut kepada saksi di tempat kejadian dan mencari bukti yang kuat untuk menemukan pelakunya. Serta mencari barang bukti lain dan menelusuri kronologi kejadiannya untuk melengkapi data-data. Ini sikap mawas diri dari seseorang yang sehat secara nalar dan mental (psikis).


Kedua, ini sengaja dibiarkan (ada pembiaran) secara terang-terangan yang mengarah ke sikap mensia-siakan harta benda (property). Secara normal, sikap mensia-mensiakan sesuatu itu tidak akan pernah dilakukan seseorang apabila ia melihat sesuatu itu sebagai suatu peluang lebih tepatnya kesempatan. Misalnya, kesempatan memiliki rumah bersih, aestetis, dan terawat dengan baik seperti kita lihat di koran-koran. Tetapi di sini, perasaan excited itu tidak muncul sehingga yang muncul malah sebaliknya, sikap mensia-siakan. Bisajadi harta benda itu sudah dianggap kuno, warnanya tidak mecolok (pudar), nirfungsi, atau minim corak dan hiasannya. Sehingga, ada atau tidak adanya harta benda tersebut tidak bisa menarik perhatian si pemilik hunian walaupun barang itu baru saja pecah atau baru saja rusak, dan diarkan saja seperti barang pecah tanpa harus diperbaiki.


Ketiga, tidak punya rasa malu. Kita tidak pernah tahu kapan seseorang datang ke rumah kita, kapan seseorang menilai diri kita, kapan seseorang menilai rumah kita, kapan seseorang tidak nyaman saat  menginap di rumah kita. Seandainya kita punya rasa malu, tanpa mereka semua datang pun kita malu sendiri melihat ke diri kita sendiri (property) sehingga ketika ada property yang rusak akan cepat kita perbaiki meskipun dengan sehelai plastik transparan dan sedikit coretan untuk menandai akan segera diganti maupun diperbaiki dalam waktu dekat. Orang yang tidak punya rasa malu akan terus melakukan apapun yang ia suka sekalipun dengan jalan membiarkan saja harta benda rusak atau pecah di sekitar hunia atau rumah tinggal toh katanya, tidak ngefek ke diri saya. Saya masih bisa tidur, beristirahat, bersantai meskipun ada barang pecah di dalam rumah.


Keempat, menutup mata dari semua informasi tentang property. Padahal kalau dipikir-pikir, setiap hari kita menggunakan property untuk bertahan hidup dan untuk bersosial di masyarakat. Misal, pergi ke pasar menggunakan sepeda lipat, orang lewat depan rumah pasti menengok-negok ke dalam walupun sebentar, tamu pengajian kebelet BAK ke kamar mandi akhirnya terpaksa kita izinkan masuk ke dalam rumah kita. Hal-hal sepele semacam ini tidak dapat dipungkiri mesti terjadi. Dan orang pun dengan mudah langsung bisa menilai seberapa baik rumah hunian kita yang jauh dari ekspektasi orang lain seperti yang mereka lihat di dalam rumah mereka sendiri, rumah-rumah warga, maupun di koran-korang atau di iklan-iklan.


Kelima, tidak pernah sadar bahwa yang dihargai oleh orang lain terhadap kita adalah property kita, bukan siapa kita. Inilah hal yang sulit dipahami, sulit dimengerti, dan sulit diserap hikmahnya tanpa ada usaha (lebih) sungguh-sungguh. Kita sendiri juga tidak menafikkan kan kalau kita melihat ke dunia luar, pertama kali yang kita perhatikan apa? PASTI tidak jauh-jauh dengan, warnanya matching ya? Dindingnya halus ya? Gambarnya lucu/unik ya? Bening banget! Berkilauan sekali! Pasti mahal harganya ini! Dari kisah tersebut dapat kita saksikan bahwa penampilan luar itu memegang peran kunci dalam mengambil simpati orang lain. Orang yang semula hanya memperhatikan teksturnya, ujung-ujungnya dengan suka rela menaksir harga dari property kita. Bahkan mereka menaksir lebih tinggi (overestimate) dari harga sebenarnya dari uang yang kita keluarkan. Saya pernah mengalami kejadian ini, tapi bukan bangunan fisik kaca saya tapi saat itu adalah helm saya yang ditaksir orang lain berharga hingga ratusan ribu padahal saya belinya di penjual obralan pinggir jalan.


Keenam, tidak pernah sadar bahwa iklan-iklan di televise juga mengajarkan dan mengajak kita untuk merawat fungsi rumah sebaik-baiknya. Misal, fungsi kaca yang tidak hanya sebagai sekat antara ruangan tetapi juga bisa melihat ke luar ruangan secara jelas. Maka dari itu, kalau kacanya kotor si pengiklan menegaskan untuk menawarkan obat yang berisi zat aktif untuk menghilangkan noda membandel dan lemak yang menempel di kaca. Itulah contoh sederhananya yang bisa kita amati di media.

 

Sekarang, bagaimana dengan Anda? Apakah memiliki ke-enam ciri di atas? Semoga tidak ya, tetep jaga kesehatan jiwa dan raga di masa pandemi J

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Metode Pembacaan Spektrofotmeter

Jenis-jenis Jomblo

Mak Nyussnya Nasi Punel Bangil