MENIKMATI BAHASA ARAB DENGAN RIANG GEMBIRA
Oleh: Muh. Sajidin Nur
“Mengapa kita merasa B aja walaupun
telah memuroja’ahkan satu (1) ayat dari Al-Qur’an bahkan lebih?”
Pertama,
tanda bahwa kita belum paham apa itu bahasa Arab telah nampak sekali. Sebagian
orang beranggapan jika kita sudah lancar makhorijul huruf dan tajwid, maka kita
tinggal dengan mudah membaca Kitabullah. Hal ini sangat lazim dilakukan
sebagian besar dari kaum muslimin terutama di Indonesia. Yang jadi
permasalahannya, seberapa puaskan kita setelah membacanya atau bahkan B aja?
Karena bahasa yang digunakan dalam Al-Qur’an itulah bahasa Arab dan sebagian
besar muslim Indonesia kurang minat mempelajari lebih dalam tentang tajwid dan
makhorijul hurul apalagi mencoba melirik bahasa Arab untuk dipelajari lebih
jauh.
Kedua,
gejala awal anak belum baligh yang masih dibimbing dalam kitab IQRO’ jilid 1
dan TILAWATI jilid 1. Sudah sangat lazim jika anak yang masih belajar di bangku
Taman Pendidikan Al-Qur’an merasa B aja walupun telah membaca kitab kecilnya
itu. Hal ini disebabkan si anak belum baligh ini sudah tidak sabar ingin
bercakap-cakap dengan teman sebangkunya karena merencanakan akan membeli mainan
di dekat TPQ tempat ia mengaji. Jadi ia tidak fokus saat diminta membaca
beberapa kalimat berbahasa Arab di dalam kitab kecilnya oleh guru ngajinya itu.
Ketiga,
belum pernah diarahkan setelah membaca ayat-ayat Al-Qu’ran kemudian dilanjutkan
membaca terjemahannya. Sebagai muslim Indonesia, mengetahui ayat-ayat dalam
Kitabullah yang berbahasa Arab menjadikan kita keder pada awalnya saat waktu
belajar di bangku TPQ. Tetapi, sembari berjalannya waktu kita terus membaca
ayat-ayat tersebut hingga menjadi akrablah telinga kita dengan bahasa Arab.
Seiiring berjalannya waktu, jika kita jarang sharing dengann sesama pembaca Al-Qur’an, kita jadi tidak tahu
bahwa di luar sana kalau membaca ayat Al-Qur’an disertai terjemahnya dalam
bahasa Indionesia itu mengasyikkan. Seperti bahasa Arab itu bukan penghalang
untuk kita mengetahui isi Kitabullah sekarang, temen-temen.
Keempat,
kesalahan situasi saat kita di TPQ diajarkan ilmu Nahwa dan Shorof dalam Kitab
Al-Jurumiah. Sebagian mantan santri tidak asing lagi dengan yang namanya ilmu
Nahwu dan Shorof. Terkadang kita menyesal karena kenapa saat diajarkan dasar
ilmu berbahasa Arab dulu saat kita belum baligh, kita malah sibuk bercakap-capak
sendiri dengan teman sebangku. Sehingga apa yang diajarkan oleh guru ngaji
tidak sebanding dengan dasar ilmu yang kita terima atau serap. Akibatnya, di
situasi kita sekarang yang rata-rata sudah akil baligh, kita menjadi mudah
bosan saat dihadapkan dengan muroja’ah wlaupun hanya dengan satu (1) ayat.
Kelima, tidak kreatif dengan penggunaan internet dan teknologi informasi telah meningkat dari tahun ke tahun kenapa kita malas memanfaatkannya untuk memahami bahasa Arab. Hampir setiap jam sekali kita menggunakan layanan digital dari aplikasi di smartphone kita masih-masing. Untuk chattingan di Whats App, misalnya. Kita bahkan tidak terasa telah berjam-jam menatap layar, menunggu pesan masuk, menjadi stalker sejati postingan teman-teman, atau komentator jail di story orang lain. Nah, di sinilah terjadi kekosongan yang bisa kita manfaatkan untuk mengulik lebih dalam tentang kebahasaan Arab untuk semakin mengerti bahasa asli Al-Qur’an tersebut, teman-teman.
Di
antara temen-temen sekalian, siapa nih yang belum bisa menikmati bahasa Arab
dengan riang gembira? Pastinya ngga mau dong jika kita memiliki kelima ciri di
atas yang bakal membuat kita frustasi dan frustasi lagi saat bertemu dengan huruf
Arab, aksara Arab, dan narasi Arab lainnya di kehidupan sehari-hari, ya kan?
Sungguh menyesal temen-temen bila usianya sudah akil baligh dan dia muslim
tetapi belum juga tertarik mempelajari bahasa Arab yang begitu menarik itu loh
temen-temen. By by.. J

Komentar
Posting Komentar