Kesehatan Mental Nih, Skuy Mengkaji Self-Disclosure pada Masyarakat

Individu yang mampu dalam keterbukaan diri akan dapat mengungkapkan diri secara tepat dan berimbas pada penyesuaian diri yang baik

                                   

                                      Oleh: Rama Fatahillah Yulianto  |  05 February 2021


    Self-disclosure adalah bentuk komunikasi interpersonal dalam bentuk membagi informasi diri pribadi berupa ide, perasaan, dan fantasi serta mengungkapkan reaksi dan tanggapan terhadap suatu situasi yang umumnya disembunyikan namun disampaikan sehingga orang lain mengetahui apa yang dipikirkan, dirasakan dan diinginkan.


    Self-disclosure sangat perlu untuk dilakukan, disamping untuk mengetahui kesehatan mental kepribadian, hal itu juga sebagai ungkapan bahwa saat ini kita mengalami cobaan yang cukup berat. Manfaat dan dampak positif dari kemampuan Self disclosure ini juga sangat baik, sejumlah tenaga kesehatan maupun psikologis akan mengetahui dan memberikan upaya represif yang baik dan tentunya tak lupa untuk melakukan upaya preventif. Sayangnya, masyarakat Indonesia masih menurunkan ‘kebiasaan’nya yang selanjutnya disebut ‘stigma’, contohnya laki-laki tidak boleh menangis, perempuan harus menjadi lemah lembut, dan sebagainya.


    Para ahli psikologi mengatakan bahwa Self-disclosure atau pengungkapan diri yang dilakukan secara tepat merupakan indikasi dari kesehatan mental seseorang. Penelitian menunjukkan bahwa individu yang mampu mengungkapkan diri secara tepat terbukti lebih mampu menyesuaikan diri (adaptif), lebih percaya diri, lebih mampu bersikap positif, percaya pada orang lain, lebih obyektif dan terbuka. Pengungkapan diri dalam istilah psikologi disebut dengan Self-disclosure. Sejumlah masyarakat memiliki permasalahan yakni kesulitan untuk mengungkapkan suatu perasaan, terkadang mereka merasa rentan untuk mengungkapkan kepada teman, orang tua, sahabat, apalagi kepada para psikolog yang dianggapnya orang asing (tidak ada riwayat kedekatan hubungan).

  

  Seorang psikologi klini Joshua Klapow, Ph.D. mengatakan bahwa mereka tidak mengakui atau menyadari bahwa mereka memiliki perasaan itu sendiri. Mereka dapat mengartikan, misalnya, frustrasi sebagai keketatan pada otot mereka, ketegangan di kepala mereka, atau kesulitan berkonsentrasi, tetapi mereka tidak melihat pengalaman sebagai emosi frustrasi. Selanjutnya, menurut psikolog Joseph Cilona alasan, masalah, motivasi, pikiran, dan perasaan yang mendasari seseorang menyembunyikan perasaannya akan sangat bervariasi dari individu ke individu.

    

    Beberapa klasifikasi seseorang yang kesulitan untuk mengungkapkan diantaranya mereka sangat sensitif bahkan terhadap masalah terkecil sekalipun. Mereka merasa lelah untuk berurusan dengan emosi-emosi ini sepanjang waktu, jadi mereka berpikir hal terbaik untuk dilakukan adalah tidak mengatakan apa-apa. Terlebih lagi, mereka takut ditolak jika mereka membuka diri tentang emosi mereka. Selanjutnya, rasa takut ditolak tersebut menyebabkan kerentanan, pada akhirnya kerentanan tersebut adalah rasa takut akan penolakan atau pengabaian. Sebagian orang telah disakiti sebelumnya, jadi mereka berusaha untuk menghindari disakiti lagi.


Dampak Self Disclosure

    Di samping itu self-disclosure atau pengungkapan diri memiliki beberapa manfaat, antara lain meningkatkan kesadaran diri (self-awarenes), membangun hubungan yang lebih dekat dengan orang lain, mengembangkan keterampilan berkomunikasi, mengurangi rasa malu dan meningkatkan penerimaan diri (self acceptance), memecahkan berbagai konflik dalam masalah interpersonal memperoleh energi tambahan dan menjadi lebih spontan, dan dapat meringankan diri dari beban pikiran yang mengakibatkan ketegangan dan stres.


    Self-disclosure dapat bersifat deskriptif maupun evaluatif. Pengungkapan diri deskriptif yaitu seseorang melukiskan berbagai fakta mengenai dirinya yang mungkin belum diketahui oleh pendengar, seperti pekerjaan, tempat tinggal, dan sebagainya. Pengungkapan diri evaluatif yaitu seseorang mengemukakan pendapat atau perasaan pribadinya, seperti perasaannya menyukai orang-orang tertentu, merasa cemas karena terlalu gemuk, tidak suka bangun pagi, dan sebagainya.


    Menurut Dayakisni dan Hudaniah (2006), pengungkapan diri terdiri dari beberapa klasifikasi, pertama Basa-basi, jenis ini merupakan taraf pengungkapan diri yang paling lemah atau dangkal, walaupun terdapat keterbukaan diantara individu, tetapi tidak terjadi hubungan antar pribadi. Masing-masing individu berkomunikasi basa-basi hanya untuk kesopanan. Kedua, Membicarakan orang lain, yang diungkapkan dalam komunikasi hanyalah tentang orang lain atau hal-hal yang di luar dirinya. Walaupun pada tingkat ini isi komunikasi lebih mendalam tetapi pada tingkat ini individu tidak mengungkapkan diri. Ketiga Menyatakan gagasan atau pendapat, sudah mulai dijalin hubungan yang erat. Individu mulai mengungkapkan dirinya kepada individu lain, walaupun hanya sebatas pendapat mengenai hal-hal tertentu saja. Keempat, Perasaan, setiap individu dapat memiliki gagasan atau pendapat yang sama tetapi perasaan atau emosi yang menyertai gagasan atau pendapat setiap individu dapat berbeda-beda. Setiap hubungan yang menginginkan pertemanan antar pribadi yang sungguh-sungguh, haruslah didasarkan atas hubungan yang jujur, terbuka dan menyatakan perasaan-perasaan yang mendalam. Terakhir Hubungan puncak, pengungkapan diri telah dilakukan secara mendalam, individu yang menjalin hubungan antar pribadi dapat menghayati perasaan yang dialami individu lainnya. Segala persahabatan yang mendalam dan sejati haruslah berdasarkan pada pengungkapan diri dan kejujuran yang mutlak


    Masyarakat perlu mengkaji, menganalisa, dan menerapkan kebiasaan yang baik, stigma yang kurang baik perlu dihapuskan dan perlu untuk mere-tools kebiasaan-kebiasaan dan mindset tiap individu demi berlangsungnya kesejahteraan dan kenyamanan di lingkungan masyarakat. Mengingat pentingnya dampak positif dari Self-disclosure, khususnya demi perkembangan kesehatan fisik dan mental tiap individu, sudah saatnya masyarakat mengoptimalkan bentuk Self-disclosure. Kita paham bahwa menyayangi diri sendiri bukanlah pekerjaan yang egois, menjaga apa yang kita makan dan menjaga suasana hati adalah wujud kasih nyata kita terhadap diri sendiri sekaligus jutaan mikroba di dalam tubuh, jadi sayangi diri dimulai dari diri sendiri.

 

Sumber: 

https://opini.id/sosial/read-15953/mengkaji-self-disclosure-pada-masyarakat

03 November 2021 07.55 WIB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Metode Pembacaan Spektrofotmeter

Jenis-jenis Jomblo

Mak Nyussnya Nasi Punel Bangil