Penerbit Bicara, "Mungkinkah Membangun Imperium dengan Tumpukan Buku?"
Salah satu titik
tonggak kebangkitan Eropa adalah penemuan mesin cetak oleh Gutenberg. Mesin ini
memungkinkan buku-buku yang memuat pengetahuan menjadi lebih terjangkau di bagi
semua kalangan. Sebelumnya, buku ditulis dan disalin dengan cara manual oleh juru
tulis atau biarawan. Buku hanya dimiliki oleh para bangsawan dan orang-orang
tertentu saja. Dengan adanya mesin Gutenberg, masyarakat luas bisa mendapatkan
buku dengan harga yang bisa mereka beli.
Pada
awalnya, apa yang dicetak adalah buku agama, Alkitab. Dengan akses yang mudah
pada Alkitab membuat orang-orang yang
dianggap awam bisa membaca firman Tuhan melalui diri mereka sendiri. Tanpa
perantara otoritas yang mengekang. Dari perihal keagamaan, lambat laun menjalar
ke persoalan keilmuan yang mendalam. Di sinilah bibit-bibit sapere aude (beranilah berpikir
sendiri) mulai menyebar di dataran Eropa. Setiap orang memiliki hak untuk
berpikir dan bebas untuk mengekspresikan pemikirannya. Semangat ini memunculkan
penentangan atas dogma. Tradisi keilmuan menggema dan pada akhirnya diskusi dan
komunikasi keilmuan semakin pesat dan maju.
Setiap imperium memiliki jantung
peradaban. Bangsa Mesir kuno boleh berbangga dengan Perpustakaan Alexandria
yang berdiri berabad-abad dengan koleksi sampai jutaan papyrus. Begitu juga dengan peradaban Islam
dengan Bait Al-Hikmah sebagai episentrum intelektual dunia kala itu. Bahkan
Imperium Inggris dengan semangat penjelajahan dan penaklukannya telah mengumpulkan
informasi yang begitu banyak dan disimpan di British Library.
Bangsa Inggris, sebagai penguasa
samudera kala itu, tidak hanya membawa bedil dan pasukan dalam perjalanan penaklukkanya, namun juga
sekumpulan ilmuwan terbaik. Di setiap negeri asing yang mereka injak, mesiu
meletus dan pena berayun. Mereka memetakan geografis, menelusuri kehidupan
masyarakat dan menelisik flora dan marga satwa yang ada. Informasi ini akan
sangat berguna bagi Inggris untuk bisa dengan mudah mengatur dan mengontrol
wilayah yang ada dalam kendali mereka. Scientia
potestas est (pengetahuan adalah kekuasaan), kata Francis Bacon.
Begitu juga dengan imperium Islam.
Sebagai agama kosmopolitan yang dianut oleh berbagai ras, bangsa dan banyak
golongan, Islam memberikan semangat untuk akumulasi pengetahuan dari berbagai
penjuru peradaban. Muncul di padang pasir gersang Jazirah Arab, agama Islam
dengan pesat menyebar ke berbagai wilayah, termasuk peradaban-peradaban besar
seperti Mesir, Persia dan India. Atas jangkauan yang luas tersebut, tradisi
keilmuan Islam adalah sistem pengetahuan hybrid yang
unik. Para intelektual muslim menyerap geometri, ilmu teknik dan filsafat dari
Mesir dan Yunani; ilmu perbintangan dari Persia dan sistem bilangan dan aljabar
dari India. Dari akumulasi dan integrasi ini muncul keilmuan kosmopolitan yang
bernilai aplikatif. Peradaban Islam memberikan landasan bagi berkembangnya ilmu astronomi, teknik dan
kedokteran.
Sejarah telah memberikan pelajaran.
Sekarang adalah saatnya untuk membangun masa depan. Tidak ada satu medan
peperangan apapun yang tidak dimenangkan dengan Ilmu. Perang militer, perang
dagang, perang ideologi, perang budaya dan perang biologis hanya bisa
dimenangkan dengan penguasaan ilmu. Pengembangan keilmuan adalah mutlak
dilakukan untuk mencapai kemajuan di sama depan.
Pemikiran akan berkembang dan semakin
tajam jika ditanamkan pada pikiran orang lain. Komunikasi keilmuan adalah kunci
dalam kemajuan pengetahuan. Oleh karena itu, buku berperan sentral sebagai
media komunikasi keilmuan. Dengan adanya buku, seorang bisa menyebarkan
pemikirannya pada ribuan orang lain. Memungkinkan orang untuk belajar dan
mengembangkan apa yang telah dipelajari. Buku adalah syarat mutlak dalam
perkembangan ilmu pengetahuan. Apapun bentuknya, baik fisik, elektronik maupun
audio.
Berkat catatan dari Plato, kita
bisa membayangkan bagaimana Socrates berceloteh dan berdebat di pasar dan di
pengadilan. Melalui buku juga kita bisa membayangkan bagaimana Rumi bersyair
berabad-abad yang lalu. Buku adalah lubang waktu yang memungkinkan kita untuk
menjelajahi dimensi ruang dan waktu yang berbeda. Kita bisa berguru langsung
pada Albert Einstein untuk teori Relativitasnya dan pada Heisenberg untuk teori
Ketidakpastian. Kita bisa mengikuti liku-liku sejarah, cinta dan perjuangan
melalui tulisan Pramoedya Ananta Toer. Kegetiran perjalanan Robinson Crusoe
menghadapi badai dan suku kanibal lewat karya Daniel Defoe. Serta romantisme
tragis Cleopatra lewat Shakespeare. Ajaibnya buku adalah ia memberikan kita
pelajaran tanpa kita harus mengalami.
Setiap imperium dibangun melalui buku,
dan buku adalah sesuatu yang imperium. Kebesaran Inggris dalam menaklukan dunia
ditunjukkan dengan lengkapnya Ensiklopedi of Britannica. Bahkan keunggulan
bahasa mereka ditunjukkan dengan disusunnya kamus besar Oxford English
Dictionary yang memakan waktu lebih dari satu abad. Tingginya selera dan budi
mereka ditunjukkan dengan karya-karya William Shakespeare. Kuatnya logika dan
pikiran mereka diwujudkan dalam The Principia dari Newton. Menyusun buku adalah
membangun imperium. Zaman mereka sudah berlalu, sekarang saatnya bagi kita
untuk membangun imperium.
Komentar
Posting Komentar