Empat Kesan Wisata di Kota Bayuangga



Asyik, seru, senang, dan romantis. Itulah kesan yang kami alami ketika berkunjung ke Probolinggo. Dengan banyaknya obyek wisata di sana, membuat kami ingin mengunjungi semuanya. Serasa betah lama-lama di Kota Akronim ini. 

Tujuan awal kedatangan kami, para siswa Jurnalistik SMK Muhammdiyah Pandaan, adalah praktek lapangan Jurnalistik dan silaturahmi media.  Berenang sambil minum air, kami lantas menyempatkan diri bermain-main di beberapa tempat wisata di Probolinggo. Mulai dari studio Radio Suara Kota, Gereja Merah, Hutan Mangrove, TWSL Kota Probolinggo,  Museum Probolinggo, dan terakhir ke kantor redaksi Kabar Probolinggo

Jujugan pertama Media Trip kami adalah studio Radio Sura Kota, yang berada di kompleks museum Probolinggo Jl Suroyo. 

Rasa kaget tentunya menghinggapi kami saat masuk ke dalam studio. Bagaiman tidak, para pemenang lomba blog nasional Pemkot Probolinggo 2013 ada di ruangan itu. Mereka menyalami rombongan yang datang dari Pandaan ini. Setelah itu, kami dipersilahkan duduk di kursi dengan sebuah meja persegi panjang di depannya. “Perkenalkan. Mereka adalah pemenang lomba blog. Nanti mereka akan berbagi pengalaman kepada kalian,” ucap Kak Stebby sambil menunjuk ke arah mereka (para pemenang lomba). Kelima juara itu bergerombol menempati sofa studio. 

Suasana siang itu terasa ramai dengan kehadiran mereka. Acara pertama diawali dengan pengenalan Radio Suara Kota dan tabloidnya oleh Kak Stebby. Siswa SMK pun dengan seksama menyimaknya. Kak Stebby mengatakan, “Jika kurang jelas, silakan dipotong saja (bertanya).” Usaha itu tak sia-sia. Di tengah penjelasannya, ada dua orang siswa yang bertanya. 

Kini giliran pemenang lomba blog yang presentasi. Presentasi tersukses siang itu adalah presentasi dari Fitrah Izul Falaq, siswa kelas X SMKN 2 Probolinggo. Denga ide-idenya yang cemerlang, dia bisa membuat para tamu tertawa. Di tengah-tengah presentasinya, ia menyebut nama “pocong” sebagai contoh bahan menulis. Mendengar sekilas saja, semua orang lantas tergelak karenanya. “Pocong kan lagi ngetrend di masyarakat. Tapi, kita tahu tentang pocong. Nah, sulit untuk menuliskannya,” ujarya dengan logat Madura yang khas. 

Lagi-lagi si Fitrah “berulah”. Seorang siswa bertanya, ”Maksudnya ‘menulis apa yang kita sukai’, itu apa?” Dia balik bertanya, “Contohnya apa?” Siswa itu menjawab, ”Rutinitas, yakni mencuci.” Dia lantas memberi jawaban dengan cepat. “Kalau mencuci menggunakan tangan kan biasa. Bagaimana kalau mencuci menggunakan kaki saja?” Gelak tawa lalu menggema di ruangan studio 101,7 FM itu. 

Menjemput siang, kami lalu berangkat menuju warung untuk bersantap siang. Usai makan-makan, kami meneruskan perjalanan ke Gereja Merah. 

Sekilas, bangunannya tampak seperti rumah penduduk. Hal itu terlihat pada pagar yang berdiri tegak sebagai pembatas. Arealnya pun cukup luas. Ada tembok namanya, bangunan besar berwarna merah, rumah yang berada di samping belakang bangunan itu, dan juga pepohonan. Yang paling menonjol adalah bangunan besar berwarna merah, itulah Gereja Merah. Salah satu gereja tertua di Indonesia ini, dibangun pada tahun 1862. 

Saat memasuki kawasannya, kami mendengar gug-gug anjing dari belakang gereja. Tak perlu dihiraukan, kami lantas menuju ruang belakang gereja. Di ruangan itu, kami bisa melihat benda-benda gereja yang bersejarah tertata di etalase kaca. Ada buku milik Harry Potter, peralatan babtis, dan tulisan Belanda yang tertempel di bagian depan etalase. 

Di atas etalase, terpajang foto Gereja Merah berwarna putih. Lho, kok? Olala. “Dulunya memang brwarna putih. Karena sering terkena hujan, bangunannya beralih menjadi cokelat. Lalu, dicat putih lagi. Tapi, setelah terkena hujan, berubah cokelat lagi. Daripada warna cokelat, sekalian dicat merah saja,” jelas Kak Stebby. 

Karena bersejarah, gereja ini banyak dikunjungi oleh turis-turis asing. “Setiap kapal pesiar yang datang ke Probolinggo, pasti turisnya minta diantar ke sana,” tutur Bu Yeti, guru pendamping kami. Selain turis, semua kalangan pun boleh beribadah di tempat itu. “Ini gereja untuk sosial. Mulai dari kalangan bawah sampai atas boleh ibadah di sini,” ujar Kak Stebby. 

Satu hal lagi yang menjadi unik dari gereja ini. Di dunia, hanya ada dua gereja yang bentuknya seperti ini. Pertama, di Denhag, Belanda. Kedua, ya Gereja Merah ini di Probolinggo. 

Selepas dari Gereja Merah, kami beristirahat sejenak untuk menjalankan sholat. Setelahnya, perjalanan dilanjutkan ke Hutan Mangrove. 

Jalan kayu yang tersusun rapi menyambut kedatangan kami di sana. Lewat jalan ini, kami seakan digiring untuk memasukinya lebih dalam. Dengan merogoh kocek Rp 5000, kami sudah diperbolehkan memasuki kawasan Hutan Mangrove. Saat meneruskan perjalanan, hamparan lumpur hitam terlihat di bawah jalan yang kami lalui ini. Di tengah-tengah perjalanan, sebuah tanda menuntun kami menuju sebuah stand di atas laut. 

Setibanya di sana, kami bisa menukar karcis masuk dengan segelas es teh. Sejauh mata memandang, laut biru tampak jelas di mata. Dengan angin sepoi-sepoi, kita bisa merasakan kenyaman berada di tempat itu. Di  meja persegi berpayung lebar dan ditemani segelas es teh, teras romantis saat  menyambut datangnya sore. 

Usai mengunjungi stand romantis, kami mulai menyusuri Hutan Mangrove. Memasukinya lebih dalam, kami mulai melihat rimbunnya pohon-pohon bakau. Suasana tak secerah tadi. Tapi asyik, bisa jala-jalan ke situ. Di sudut-sudut jalan, terdapat kursi-kursi panjag berjajar untuk pengunjung. Kami bisa berfoto-foto di sana. Eits, tapi ingat. Jangan sekali-kali berbuat ajaib. Mengapa? Karena sudah tertulis peringatan di situ, “Awas! Area ini dipasangi kamera CCTV.” Hehe… 

Puas “bermesraan” dengan Hutan Mangrove, kami lanjut ke Taman Wisata Studi Lingkungan (TWSL) Kota Probolingo. 

Di luar area, para pedagang kaki lima berjajar di sepanjang jalan. Cilok, es, sampai salak, dijual di sana. Rupanya, para pedagang itu memanfaatkan keramaian pengunjung TWSL untuk mencari rezeki. Tak dapat dipungkiri, Minggu kemarin (29/12/2013), tempat itu dipadati pengunjung. Ada yang membawa anak, istri, sampai yang bergerombol pun ada. Mereka sengaja datang untuk melihat beragam hewan yang ada di kebun binatang mini itu. Dengan harga tiket Rp 3500, pengunjung bisa memasuki area itu. 

Area itu menyimpan beragam satwa. Mulai dari aves, amphibi, reptil, sampai mamalia pun ada di sana. Ada landak Jawa, biawak, trenggiling, lutung, siamang, luwak, berang-berang, buaya,  singa, burung elang Jawa, dll. Selain satwa, TWSL juga menjadi tempat hidup bagi pepohonan. Walhasil, kami merasakan suasana rindang dan teduh di sana. 

Dari sekian banyak binatang, ada seekor bintang yang menarik perhatian kami saat itu. Apa itu? Siamang. Kera hitam “gondokan” ini sangat lincah berayun-ayun di kandangnya. Selain itu, siamang juga sangat berisik ketika di dekati banyak pengunjung. Lehernya bisa menggelembung yang mengeluarkan bunyi, “Wuk…wuuk…wuuuk…” Pantas saja, pengunjung merasa betah melihatnya. Namun, ketika hanya dua orang saja yang mendekati, siamang tak bersuara. Mungkin, tadi ia merasa ketakutan dengan banyaknya orang yang melihati dirinya. 

Usai bergelut denga satwa-satwa, kami memutuskan kembali ke tempat semula. Tapi, kali ini tujuannya beda. Bukan ke studio, melainkan ke Museum Probolinggo. 

Dari luar, bangunan itu begitu besar. Bercat putih. Lebih mirip bangunan kuno zaman Belanda. Begitu masuk ke ruang pertama, kami disambut dengan patung dewa-dewa dalam agama Hindu. Salah satunya adalah Ganesha. Ada sekitar  tujuh patung yang berdiri di sana. Ukurannya sedang dan tingginya antara 1 - 1,5 meter. 

Menuju ruang berikutnya, tengah terpajang barang-barang kuno di situ. Kesemuanya ditempatkan di etalase kaca. Ada mata kapak, enthong, sepatu zaman dahulu, meteran listrik, dan barang-barang lain. Benda-benda kuno itu terlihat jelas denga sinar lampu kunig yang meneranginya. 

Semakin ke dalam, semakin banyak lagi yang bisa kita lihat. Di dinding ruang dalam, terpampang poster tentang sejarah Kota Probolinggo dan sejarah uang. Tak hanya sekedar poster saja, uang-uang zaman dahulu pun ada di situ. Lengkp, ada uang kertas dan uang logam. 

Menyusuri sudut-sudut ruangan, seakan berada di Probolinggo tempo dulu. Foto-foto pemimpin Kota Probolinggo dari masa ke masa terpampang rapi di dinding kayu itu. “Pemimpin  kita dulu orang Belanda,” tutur Kak Stebby sambil menunjuk ke sebuah foto ukuran sedang. 

Di sisi kiri, kita dapat melihat pemandangan masyarakat suku Tengger dalam bingkai foto ukuran agak besar. Ada pasangan pengantin, orang Tengger dengan dua anak, delman zaman dahulu, dan masih banyak lagi. 

Sementara di ruangan paling dalam, kita bisa meliat replika-replikanya. Ada replika orang sedang lomba Karapan Kambing, orang sedang menari Langger Probolinnggo, orang sedang membatik, tiga orang sedang SMS-an, kusir dan delmannya, serta ada pengantin khas Probolinggo zaman dahulu. 

Melangkahkan kaki ke ruang paling ujung, kita disuguhi dengan replika sepeda motor pertama di dunia, vespa merah sumbangan dari Pak Walikota, dan becak milik walikota Probolinggo saat ini. “Walikota kita sekarang (H. M. Buchori), dulunya adalah tukang becak,” jelas Kak Stebby. 

Setelah dari museum, kami lalu berfoto-foto di area depan museum. Ada pesawat udara TNI Angkatan Laut, tank Marinir, dan kereta uap tempo dulu. Menjelang petang, kami baru menuju spot terakhir di Kota Mangga ini, kantor redaksi Kabar Probolinggo

Media Trip SMK ini ditutup di kantor redaksi Kabar Probolinggo. Sekilas, bangunan itu tak ubahnya dengan toko-toko yang berjajar di area itu. Namun, ketika mendekat, barulah tampak jelas jika itu adalah sebuah kantor redaksi. Bangunannya sendiri, juga tak terlalu besar. 

Kantor redaksinya berada di lantai dua. Saat memasuki ruang redaksinya, di kanan-kiri terlihat sekitar delapan wartawan sedang mengetik berita. Beberapa langkah lagi, kami tiba di ruang tamu kantor redaksi. 

Kehadiran kami disambut langsung oleh pimpinan redaksinya, Rifqi Riva Amalia. Perempuan yang saat itu berbusana warna cream itu lalu menyalami kami satu persatu. Dia lantas menyapa kami dengan ramah. “Ini dari SMK mana?”, tanya Kak Rifqi. “Dari SMK Muhammadiyah Pandaan,” jawab Bu Yeti, guru pendamping kami. Kak Rifqi lantas ikut duduk bersama kami di hadapan meja besar berbentuk persegi panjang. Setelah itu, ia lalu memberikan contoh koran Kabar Probolinngo kepada kami. 

Mantan redaktur Radar Bromo ini tak banyak basa-basi. Langsung saja, dia memulai penjelasannya tentang dunia Jurnalistik. Mulai dari Kabar Problingggo, wartawan, politik keredaksian, teknik peliputan, sampai liputan di sekolah, ia bahas dalam forum itu. Di sela-sela memberi penjelasan, ia menawari kami untuk bertanya. 

Baik siswa maupun guru pendamping, sama-sama beradu melontarkan pertanyaan. Pak Jadid, misalnya. Guru pembimbing satu ini bertanya tentang persepsinya tentang wartawan. “Banyak suka atau dukanya jadi wartawan?” tanya Pak Jadid. “Banyak sukanya,” jawab Kak Rifqi. Sisiwa-siswinya pun tak mau kalah. Ada saja petanyaan yang terlontar ke narasumber ini. 

Begitulah kenangan indah di Probolinggo. Tak terasa,waktu berjalan begitu cepat. Memaksa kita meninggalkan Kota Bayuangga, untuk segera pulang ke Pandaan-Pasuruan, dengan selamat. (sajidin)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Metode Pembacaan Spektrofotmeter

Jenis-jenis Jomblo

Mak Nyussnya Nasi Punel Bangil