Suara Kota Sambut Istimewa Tamu Pandaan
Para Pemenang Lomba Blog Nasional Turut Meramaikan
Suasana
PROBOLINGGO - Radio Suara Kota Probolinggo (RSKP)
kedatangan tamu dari Pandaan. Tamu itu adalah rombongan kelas Jurnalistik SMK
Muhammadiyah Pandaan. Dengan tujuan praktek lapangan Jurnalistik dan
silaturahmi media, mereka mengunjungi studio yang berada di kompleks Museum
Probolinggo Jl Suroyo, kemarin (29/12/2013). Rombongan yang terdiri dari
puluhan orang itu disambut dengan ramah oleh seorang penyiar radio RSKP, Stebby
Julionatan (30). Tak hanya Stebby, mereka juga disambut oleh para pemenang
Lomba Blog Pemkot Probolinggo Tahun 2013.
“Senang sekali
rasanya Radio Suara Kota mendapat kunjungan dari siswa-siswi SMK Muhammadiyah
Pandaan. Kami akan memberi sedikit ilmu kepada adik-adik semua,” ucap Stebby mengawali
sambutannya.
Stebby
bercerita, RSKP mulai berdiri tahun 2002. Saat itu, ia masih di Pemkot
Probolinngo. Tahun 2010, berganti ke Humas Protokol. Ia masuk di persandian
awal. Di situ, ia mengurus surat-surat dan naskah sambutan walikota. Tiga bulan
selanjutnya, ia ditawari siaran. “Kalau kamu tetap di persandian, gak akan berkembang. Bagaiman kalau jadi
penyiar radio?” ucap seorang pejabat kepadanya kala itu. RSKP sendiri ada di
bawah naungan Humas Protokol. Lalu, ia menerima tawaran tersebut. Mulai saat
itu, kegiatannya sehari-hari adalah siaran, liputan, dan nulis-nulis di media.
Awal 2013 Humas
Protokol pecah. Pemerintah membentuk Diskominfo (Dinas Komunikasi dan
Informatika). Di tahun 2002, namanya masih Infokom. Selanjutnya di tahun 2004,
luruh. Terakhir, 2013, kantor ini (RSKP). Suara Kota (Humas Protokol) pindah ke
Diskominfo. Beberapa orang disuruh pindah ke Diskominfo. Stebby saat itu ada di
bidang informasi.
Selain radio,
Diskominfo juga mempunyai tabloid Suara Kota dan majalah Link Go. Tabloid Suara
Kota terbit satu bulan sekali. Dana penerbitannya diambilkan dari anggaran
daerah. Di rentang Oktober sampi Desember 2013, tabloid ini terbit enam kali
alias kejar tayang.
Susunan
redaksinya terdiri dari 10 bidang. Media informasi masyarakat Probolinggo ini
dilindungi oleh H. M. Buchori (Walikota Probolinggo) dan Drs. H. Bandyk
Soetrisno (Wakil Walikota Probolinggo). Stebby sendiri, masuk dalam Staf
Redaksi.
Adapu alur
tabloid Suara Kota adalah sebagai berikut, tiap bulan kira-kira berita apa yang
akan ditampilkan. Staf Redaksi sudah diberi tugas. “Berita harus fresh, tetapi bisa berubah dari tugas,”
tambah Stebby. Wartawan mengumpulkan informasi, kemudian diteruskan ke lay outer, lalu foto tempel, dan jadi dami (draft sebelum dicetak). “Proses
selanjutnya adalah revisi (cek lagi), kemudian ke lay outer, dan terakhir ke kepala kita, Pak Aries (Pimpinan
Radaksi),” terang Stebby.
Sekedar
informasi, tabloid ini tidak dijual, melainkan gratis. Dalam sekali cetak, ada
2000-an. Selanjutnya, tabloid itu didistribusikan ke pemerintah se-Jawa Timur.
Informasi terbarunya adalah bahwa tabloid ini telah mendaftar ulang ISSN pada
Oktober kemarin. Sehingga mulai bulan itu, tabloid milik Diskominfo ini memulai
edisi pertamanya. Bagaiman dengan isinya? Tentang kegiatan Diskominfo. Di cover edisi 3 bulan ini (Desember),
tabloid Suara Kota tampil dengan tiga “suara”, antara lain: Suara Utama, Suara
SOSBUD, Suara Pendidikan, dan Jurnalis Warga.
Setelah tuntas
mengenalkan RSKP dan tabloid Suara Kota kepada tamu dari Pandaan, para pemenang
lomba blog diberi kesempatan untuk berbagi cerita. “Mereka sengaja diundang
Stebby untuk meramaikan suasana. Berbagi pengalaman dan latihan ngomong juga,” terang Yeti Kartikasari,
guru pendamping SMK yang berteman dekat dengan penyiar radio kelahiran
Probolinggo, 30 Juli 1983 itu. Para pemenang lomba blog itu kebanyakan dari Probolinggo.
Orang pertama
adalah Reto Prima Westi (Retno).
Pemenang lomba blog kategori umum dan mahasiswa ini sudah sering ikut
lomba blog sebelumnya. Uniknya, dia selalu menang. Tulisan-tulisannya antara
lain: tentang ice cream, fiksi mini
(isinya makanan; juara I), dan tentang Kota Probolinggo (isinya juga tentang
makanan). Gadis penghobi memasak ini mengaku, mendapat inspirasi menulis dari
hobinya itu. “Menulislah apa yang kamu suka, sebab akan memudahkanmu ketika
menulis,” tuturnya.
Ada tiga tips
menulis yang ia bagikan siang itu. Jangan malas, suka baca, dan sering-sering
bepergian. “Terutama pakai angkot. Mengapa? Karena di angkot kita bisa dapat
cerita lebih banyak. Ada orang yang cerita tentang keluarganya, tetangganya,
ini, itu, dll. Hal itu juga bisa diperoleh saat naik kereta ekonomi,” jelasnya.
Menurut pengalamannya, hal itu tidak bisa diperoleh saat naik kereta bisnis.
Karena, dia hanya bisa duduk, nyantai,
dan tidur. Jadi, tidak terkesan apa-apa.
Giliran kedua
jatuh pada duo mahasiswa ITS, Roiz Akbar Yuliantara (Roiz) dan Faiz Agustin.
Pemuda-pemudi asal Kota Mangga ini gencar mengenalkan Kota Probolinggo ke
kampusnya lewat ITS Expo. Mereka tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Probolinggo.
Nah, dari situ mereka mendapat inspirasi menulis untuk lomba blog. Tak dinyana,
mereka keluar sebagai pemenang. “Kami memilih mereka sebagai pemenang, bukan
karena tulisannya, tapi dari presentasinya. Mereka menunjukkan aksi-aksi nyata
yang telah mereka lakukan lewat presentasi itu,” jelas Stebby, yang saat itu
juga menjadi salah satu jurinya. Pesan terakhir Roiz adalah, “Jangan lupa denga
denga daerah sendiri!”
Selanjunya
adalah Fitrah Izul Falaq. Pemenang lomba kategori pelajar (SMA/SMK) ini,
langsung membuka rahasia menulisnya usai perkenalan. “Menulis itu yang simpel, menarik,
dan bagaimana caranya menghipnotis orang lain untuk terus membaca tulisan
kita,” paparnya saat itu. Setelah itu, ia memberikan kunci menulisnya kepada
para tamu di studio. “Pertama, tulislah apa yang kita tahu. Kedua, tulislah apa
yang kita kuasai. Ketiga, tulislah apa yang masyarakat suka (lagi ngetrend).
Penggagas mutu
pendidikan Quarty (Quarter Reading Time)
ini banyak mengundang tawa saat berbagi cerita. Pocong, misalnya. Ia
menyontohkan untuk menulis tentang ‘pocong’. “Pocong lagi ngetrend di masyarakat. Tapi, kita tidak tahu tentang pocong. Maka,
sulitkan, untuk menuliskannya?” ujarnya. Satu lagi tentang ‘mencuci’. Dia bisa
menemukan ide dari rutinitas satu ini. “Kalau mncuci menggunakan tangan kan
biasa. Bagaimana kalau mencuci menggunakan kaki saja?” Para tamu lantas ngakak di studio 101, 7 FM itu.
Ia pun
meneruskan ceritanya. Sebelum mengikuti lomba blog nasioal, ia pernah mengikuti
lomba menulis lain. Sempat pula ia kecewa. “Dulu saya pernah ikut lomba
menulis. Sudah bayar 90 ribu, ternyata gagal. Saya lalu kecewa,” kenangnya.
Namun, ia tak putus asa. Ia lalu mengirim tulisan itu ke lomba lain. Akhirnya,
ia pun mendapat juara. “Gagal, jangan mudah putus asa!,” tutupnya.
Dua presentasi
terakhir, ditutup oleh Ade Yahya Prasetyo (pemenang lomba blog kategori
pelajar) dan Shenobi Mikael (penggerak seni di Probolinggo). Ade terinspirasi
membuat blog dari Raditya Dika di film Kambing
Jantan. Di situ, Raditya Dika berkata bahwa semua orang sukses pasti punya
blog. Maka, ia jadi terinspirasi lalu segera membuat blog.
Lain Ade, lain
pula Nobi. Anggota komunitas SS (Street
Side) ini gemar menghidupkan seni di kota kelahirannya, Probolinggo.
Berawal dari komunitasnya, ia dan anggota SS Community lain tidak mau menjadi
komunitas jalanan saja. Ia ingin berbagi dan berbuat sesuatu yang bermanfaat.
Kala itu, ia melihat anak-anak muda di kotanya, lebih suka main band daripada kesenian Probolinggo
sendiri. Lalu, SS Community mulai mengajak mereka untuk lebih mencintai
kesenian daerahnya.
Awalnya, ia
bernegosiasi dengan para pemuda itu. “Kalau kamu bisa main band, apa kamu juga bisa nembang
dan macapat?” Tanya Nobi kala itu.
Lalu, dia berfikir bagaimana caranya agar lagu daerah ini bisa disenangi para
pemuda. Revitalisasi (diotak-atik), jawabannya. Dengan cara ini, lagu daerah
akan mudah disenangi oleh mereka. “Lagu daerahnya dinyanyikan beda dari aslinya,”
jelasnya. Akhirnya, kaum muda pun menerima tawaran itu.
Presentasi pun
selesai. Acara masih lanjut, yakni siaran langsung dengan para tamu dari
Pandaan. Saat ditanya, “Mengapa memilih Probolinggo sebagai tujuan?” Jadid
Khadavi, salah satu guru pembimbing SMK, menjawab,”Probolinggo itu kotanya
nyaman, dekat dengan Pasuruan, dan punya banyak objek wisata. Ada radio Suara
Kota, Museum Kota, hutan mangrove, dan Gereja Merah. Selama saya tinggal di
Probolinggo, saya merasakan kenyamanan. Selain itu, kotanya juga indah dan
bersih.”
Komentar
Posting Komentar