Kabar Probolinggo, Jujugan Kedua Silaturahmi Media



PROBOLINGGO - Kabar Probolinggo menjadi jujugan kedua para siswa kelas Jurnalistik SMK Muhammadiyah Pandaan, kemarin (29/12/2013). Sebelumnya, rombongan asal Pandaan-Pasuruan ini telah mengunjungi studio Radio Suara Kota yang berada di Jl Suroyo. Kali ini, tujuan mereka tetap sama, yakni praktek lapangan jurnalistik dan silaturahmi media. Tamu yang datang petang hari itu disambut langsung oleh pimpinan redaksinya, Rifqi Riva Amalia (27). 

Saat dikonfirmasi sebelumnya, guru pendamping SMK, Yeti kartikasari, mengamini kunjungan murid-muridnya ke kantor redaksi itu. “Iya, nanti kita berkunjung ke dua tempat. Pertama, ke Radio Suara Kota dan kedua, ke Kabar Probolinggo.” 

Rifqi, mantan redaktur Radar Bromo itu tidak basa-basi. Ia langsung menjelaskan tentang dunia jurnalistik setibanya tamu di ruang redaksi. Mulai dari koran Kabar Probolinggo, wartawan, politik keredaksian, teknik peliputan, sampai liputan di sekolah. 

Ia mengawali cerita dari koran Kabar Probolinggo. “Koran itu ada yang terbit mingguan dan ada yang terbit harian. Kalau Kabar Probolinggo, terbit harian. Lalu bedanya apa? Deadline lebih ketat, gak ada liburnya. Hari liburnya setiap hari-hari besar, tahun baru,” jelasnya. Rifqi menambahkan, surat kabarnya termasuk “koran negeri” karena liburnya sama dengan PNS. 

Harian pagi bermotto “Istikamah Membangun Probolinggo” ini mempunyai percetakan di luar kota. “Pabrik korannya di Nganjuk. Di sini, cuma nulis berita saja,” lanjutnya. Untuk mengolah koran, dibutuhlan program In Desain. Sedangkan untuk mengirimkannya (ke Nganjuk) dibutuhkan program MTV. 

Selanjutnya, tentang wartawan. Dari jam delapan pagi sampai jam tiga sore, wartawan mencari berita. Ngetik beritanya, mulai dari jam tiga sore sampai jam tujuh malam. Hasilnya lalu diberikan ke editor. “Yang bagus, dibaguskan lagi. Yang jelek, dipermak,” tutur perempuan kelahiran Probolinggo, 5 Januari 1986 ini. Ibaratnya, wartawan itu tukang belanja dan memasak. Sedangkan redaktur, tukang garnis. 

Suka dukanya menjadi wartawan adalah sebagai berikut. “Wartawan kata teman saya, serba mikir. Stress terus sepanjang hari. Nanti mau meliput apa, pertanyaannya apa. Besok mau meliput apa, pertanyaannya apa,” jelas Rifqi. Sering dihina, sering. Sering dimarahi, sering. Sering diusir, sering, imbuhnya. 

Menurut Rifqi, lebih banyak suka daripada dukanya menjadi wartawan. Apa saja? “Senang jadi wartawan karena bisa ketemu orang-orang baru. Kenalan-kenalan wartawan, satu-satunya profesi yang bisa menyentuh lapisan bawah sampai lapsisan atas,” terang perempuan penghobi baca komik, nonton film, dan jalan-jalan ini. Selain kenal banyak orang orang, wartawan juga merasa ada kepuasan dan diterima melancarkan kehidupannya. 

Yang ketiga adalah politik keredaksian. Maksudnya, surat kabar ini mau diarahkan ke mana? Ke bidang olahraga, umum, atau humanistik. Kompas, misalnya. Surat kabar nasional ini mengarahkan redaksinya ke bidang ‘humanistik’. Jadi, liputannya seputar manusia. 

Lain halnya dengan Kabar Probolinggo. Standar redaksinya ke ‘politik’. “Kami melihat di Probolinggo ini lebih berpotensi ke bidang politik. Oleh sebab itulah, kami mengarahkan redaksinya ke situ,” tutur Rifqi. 

Berikutnya adalah teknik peliputan. Untuk mengungkap berita penganiayaan, misalnya. Wartawan harus seperti semut. Contohnya saja, TNI sensitif,  melibatkan aparat dengan warga. Maka wartawan menggerogoti pinggirnya dulu, baru ke tengah. Maksudnya, dia mengumpulkan keterangan-keterangan terlebih dahulu. Bisa dari warga, korban, dan pihak TNI sendiri. Inilah yang disebut cover both side. Dua belah pihak diberi proporsi. “Jadi, ngasih berita gak sepihak,” lanjut perempuan yang dahulunya bercita-cita menjadi guru SD ini. 

Satu lagi contohnya. Wartawan diberitahu seorang anggota pemerintah tentang sesuatu yang menyimpang. Tetapi, si narasumber ini minta dirahasiakan identitasnya. Maka, seorang wartawan harus dapat konfirmasi. Caranya? Memanfaatkan warga lain. Cari orang lain yang mau menjadi narasumber dia. Sehingga, berita pun bisa dimuat di surat kabar. 

Terakhir, tentang liputan di sekolah. Kepada para tamunya yan masih berstatus pelajar itu, Rifqi tak lupa memberi contoh tentang liputan di sekolah. “Contohnya ada produk baru. Maka, wawancaralah dengan teman-teman sekelas dan guru-guru kalian. Tidak comot dari internet,” terang Rifqi. Menurutnya, itu akan lebih baik daripada mengandalkan internet saja. 

Selain itu, ia juga memberitahu tentang pengertian beberapa tulisan. Baik majalah, artikel, maupun bulettin. Majalah, disusun dari artikel-artikel dan tak lupa diberi foto. Artikel sendiri merupakan opini seseorang tentang sesuatu. Sedangkan bulettin,  isinya tentang puisi, artikel, atau cerpen. 

Kunjungan petang itu membawa kesan tersendiri bagi siswa kelas Jurnalistik SMK Muhammadiyah Pandaan. Ainun, misalnya. Pelajar kelas X jurusan Keperawatan ini merasa senang karena mendapat ilmu Jurnalistik dari medianya langsung. “Senang, seru bisa menambah ilmu, kita tahu hal yang sebelumnya tidak kita ketahui, bisa menanam teman di sana, dan banyak. Pokoknya seru sambil holiday,” ungkapnya girang. Dari kegiatan Media Trip tersebut, akhirnya dia menjadi tahu proses pembuatan berita di sana dan pekerjaan wartawan itu seperti apa. Meskipun demikian, ia tak menyangkal jika dirinya merasa kelelahan setelahnya. (sajidin)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Metode Pembacaan Spektrofotmeter

Jenis-jenis Jomblo

Mak Nyussnya Nasi Punel Bangil