Menjemput Obat Untuk Ayah Tercinta
Resensi Cerpen
A. Identitas
Cerpen
1. Judul
Cerpen : Tragedi Kendi
2. Nama
Pengarang : Ibra Maulan
3. Penerbit
: Komunitas Susastra
Nusantara
4. Tebal
Buku : xxiv + 196 hlm
5. Cetakan
: I (Oktober 2013)
6. Penerjemah : -
7. Cerpen
yang diresensi : hlm 1-7
B. Pendahuluan
Tragedi
Kendi, sebuah cerpen yang menggambarkan tentang bhakti seorang anak pada orang
tuanya ketika si ayah sakit keras. Ia memilih ke dukun untuk mencari obat untuk
ayahnya. Di tengah upayanya yang begitu keras, ia harus menemui rintangan.
Walaupun rintangan itu terasa berat, ia tak mudah untuk putus asa. Bahkan,
nyawanya harus melayang karenanya.
C. Isi Cerpen
Ada
seorang remaja yang menginginkan kesembuhan si ayah. Jujugannya saat itu adalah
dukun. Iya, dukun. Ia berkata bahwa ayahnya akan segera meninggal. Tapi, lain
halnya jika si remaja itu menerima saran dari si dukun. Lalu, apa sarannya?
Si
remaja tadi disuruh mengumpulkan tanah dari tiga pemakaman yang berbeda. Tak
hanya itu saja. Ia juga harus melempar kendi dari si dukun ke laut yang
membatasi Jawa dan Madura. Saking kuatnya tekad melihat ayahnya sembuh, ia tak
berfikir dua kali untuk ini.
Dengan
segera, ia mulai berlari menjemput obat. Tanah tiga macam sudah ia dapatkan
dari pemakaman-pemakaman di Surabaya. Sekarang, ia harus menuju laut itu.
Perjalanan yang cukup jauh itu ia lewati dengan berlari.
Di
tengah perjalanan, gangguan menghadangnya. Dua orang serdadu Belanda yang usil
menghalangi langkahnya. Mereka mengejar si remaja tadi. Langkah kaki si remaja
itu tak cukup panjang untuk menghindar dari serdadu itu.
Tepat
di pinggir sungai, ia tertangkap. Serdadu-serdadu itu malah girang bisa
mengerjai bocah tadi. Kendil yang awalnya diniatkan untuk mencari kesembuhan si
ayah, malah berpindah tangan ke dua “anjing” itu.
Kenapa
harus anjing? Karena seusai mengerjai bocah belasan tahun tadi, mereka
menendang dan menghajarnya tanpa ampun. Darah kemudian keluar dari hidung dan
mulutnya. Namun, tak keluar air mata. Hanya isak tangis saja yang terlihat.
Mungkin inilah bukti bahwa cinta pada seseorang (ayah) bisa “membius” seseorang
dari sakitnya penganiayaan.
Bocah
itu sungguh tak berdaya. Tak punya kawan dan tak ada seorang pun yang menolongnya. Tubuhnya memar setelah
mendapat hantaman dari anjing-anjing itu. Di permukaan sungai, kendi bocah itu
terlihat mengapung. Masihkah ada harapan menuju ke laut?
***
Keesokan harinya, seorang remaja ditemukan mengapung di derasnya air sungai daerah itu.
Tiga hari kemudian, sebuah rumah milik komandan Inggris hangus terbakar beserta
tiga serdadu di dalamnya.
D. Analisis
Unsur Intrinsik
1. Tema
: Tekad Untuk Menyelamatkan Sang Ayah Tercinta
2. Latar
a. Latar
Tempat : Daerah Rungkut, Kali Sosok, Surabaya, tiga pemakaman di Surabaya, di tengan
perjalanan menuju laut, pinggiran sungai, laut,
b. Latar
Waktu : Sore, empat tahun sebelum para penjajah berhasil diusir kembali pada
habitat asalnya, musim panas,
c. Latar
Suasana : Khawatir, menegangkan, menyedihkan
3. Alur
: Maju Mundur
4. Penokohan
a. Tokoh
Utama: aku (angin), bocah belasan tahun,
b. Tokoh
Pembantu: si Ayah, tiga serdadu kulit putih, si dukun
c. Figuran:
seorang lelaki pribumi paruh baya, komandan Inggris, malaikat, Tuhan,
*Watak
-
Aku (angin) : Tritagonis (netral) : liar, baik, simpati
- Bocah belasan tahun : Protagonis (baik) : polos, bodoh, baik, tidak mudah putus asa
-
Serdadu kulit putih : Antagonis (jahat) : engis, jahat, suka mengganggu orang lain
5. Gaya
Bahasa: Gaya bahasa sehari-hari dan hiperbola
6. Sudut
Pandang : “Aku” sebagai tokoh utama, yang menceritakan kejadian atau peristiwa
yang ia diamatinya
(sudut pandang
orang pertama).
7. Amanat
·
“Sebagai seorang anak, sudah seharusnya untuk berbakti pada kedua
orang tua. Ketika salah satu diantara mereka ada yang sakit keras, maka wajib
berbuat baik padanya. Berupaya semaksimal mungkin untuk menyelamatkannnya,
bahkan nyawa taruhannya.”
·
“Manusia yang kurang faham
tentang agama, akan mudah disesatkan oleh lingkungannya dan hidupnya pun tidak
akan bahagia.”
·
“Seseorang itu akan dibalas
sesuai dengan apa yang ia lakukan. Jika ia berbuat jahat, maka balasannya tidak
lain adalah kebinasaan. Namun jika ia berbuat baik, maka balasannya juga
kebaikan.”
E. Analisis Unsur Ektrinsik
1. Nilai
moral
Sebelum
melemparkan kendi kecil milik bocah cilik itu ke dalam derasnya aliran sungai,
mereka menghujani bocah kurus itu dengan tendangan dan pukulan tanpa ampun.
Bocah
itu benar-benar tak berdaya. Tampak jelas darah keluar dari hidung dan
mulutnya. Pelipis kiri dan sebagian tubuhnya memar setelah
dihajr serdadu itu.
Perilaku para
serdadu Inggris yang suka mengganggu orang pribumi sampai babak belur tidak
patut untuk ditiru karena hal itu bisa merugikan orang lain.
2.
Nilai sosial
“Nak,
kumpulkanlah tiga macam tanah dari tiga perkuburan yang berbeda, serta lemparkanlah
kendi ini ke dalam samudera yang memisahkan Surabaya dan Madura sebelum
matahari terbenam,” kata sang dukun sembari memberikan sebuah kendi cokelat
bertutup kain putih yang ditali menggunakan ranting pohon bambu muda. Kakinya
bersila sembari menguncupkan kedua tangannya. Mata sang dukun yang terpejam
semakin meyakinkan si bocah bahwa dia bukanlah dukun sembarangan. Tak ada
ruginya berlari dari Rungkut menuju Kali Sosok demi bertemu sang dukun sakti
yang ia yakini akan menyelamtkan nyawa ayah tercintanya.
Bocah ini
melakukan interaksi social dengan orang lain (sang dukun) ketika mencari obat
untuk menyembuhkan ayahnya.
3. Nilai
budaya
Tak
ada ruginya berlari dari Rungkut menuju Kali Sosok demi bertemu sang dukun
sakti yang ia yakini akan menyelamatkan nyawa ayah tercintanya.
Budaya pergi
ke dukun apabila punya hajat dan hal ini
menjadi kebiasaan turun menurun hingga sekarang.
4.
Nilai politik
Empat
tahun sebelum para penjajah berhasil diusir kembali pada habitat asalnya,
seorang bocah tersedu di tepian dipan.
Hal ini
menunjukkan bahwa Indonesia saat itu masih dalam cengkeraman para penjajah.
5.
Nilai agama
Anak
muda itu tampak puas dan penuh harap menerima kendi dari sang dukun. Aku
terpingkal-pingkal melihatnya. Bocah yang kuperkirakan baru berumur belasan
tahunan ini begitu bodoh dan polos menerima perintah sang dukun tanpa pikir
panjang. Dia tak pernah mengenyam bangku sekolah, buta huruf, dan hanya sedikit
tahu tentang ilmu agama. Memprihatinkan.
Karena
ketidaktahuannya pada ilmu agama, bocah tadi tidak merasa bahwa perbuatannya
menibulkan dosa besar, yakni syirik (dalam agam Islam).
FF. Kekurangan
dan Kelebihan
*Kekurangan
Cerpen
Kelanjutan
kisah dari sang Ayah tidak diteruskan, sehingga pembaca betanya-tanya
tentangnya. Apakah sang Ayang masih hidup atau sudah meninggal?
*Kelebihan
Cerpen
Ceritanya
menginspirasi karena si bocah tadi berusaha menyelamatkan ayahnya sekalipun
nyawa taruhannya.
G. Penutup
Memang
pantas diberi jempol si bocah belasan tahun tadi. Sikap simpatinya terhadap si
ayah membuat ia harus mempertaruhkan nyawa untuk mengusahakan kesembuahn
ayahnya. Hal ini bisa menjadi contoh bagi remaja zaman sekarang untuk lebih
mencintai kedua orang tuanya daripada pacarnya. Walaupun, ada ada sedikit
kejelakan pada bocah tadi (ia bodoh terhadap ilmu agama).
Sumber:
Diambil
dari antolgi cerpen “CKDKK (Cerita Kita di KOTA KATA)” karya dua puluh satu
cerpenis
Sumber:
Diambil
dari salah satu cerpen di CKDKK (Cerita Kita di KOTA KATA) karya dua puluh satu
cerpenis
Resensinya keren.
BalasHapusPengamatan peresensi lebih matang ketimbang penuilis cerpennya. :)